RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

faktor resiko depresi postpartum

Faktor risiko depresi postpartum

Wanita yang paling beresiko tinggi menderita depresi postpartum adalah yang memilki riwayat depresi, episode depresi postpartum sebelumnya, atau depresi selama kehamilan. Tekanan hidup seperti menjaga anak, kurangnya dukungan sosial (terutama dari pasangan), kehamilan yang tidak dinginkan, dan status yang tidak jelas telah divalidasi sebagai faktor resiko. The National Health and Medical Research Council (NHMRC) mengelompokkan faktor resiko menjadi empat kategori berdasarkan pengukuran hubungan bukti yang mendukung. Empat kategori tersebut antara lain: faktor resiko yang pasti didapat (riwayat depresi, depresi selama kehamilan, hubungan pernikahan, kurangnya dukungan dan kehidupan yang penuh tekanan) dengan persetujuan hampir 75% dari penelitian menggunakan desain kohort, faktor resiko yang diduga didapat (riwayat keluarga dengan kelainan psikosis, karakteristik personal, fungsi kognitif negatif, pengalaman melahirkan dan komplikasi obstetrik, kesehatan infan, neurotransmitter) dengan persetujuan 40—60% pada setiap penelitian yang dipublikasikan, faktor resiko yang mungkin didapat (disfungsi tiroid, persalinan prematur dan kejahatan seksual pada anak) dengan bukti yang sangat sedikit atau temuan yang meragukan, faktor proteksi (penghargaan diri, dukungan yang meningkat) membutuhan investigasi lebih lanjut.

Lebih dari seperempat semua wanita mengalami episode depresif mayor semasa hidupnya, dengan puncak insidensi terjadi selama usia reporduksi (American psychiatric Association, 2000). Terdapat badan penelitian substansial yang memeriksa faktor-faktor terkait dengan perkembangan depresi postpartum. Sayangnya, banyakpenelitian ini telah memiliki keterbatasan metodologi (seperti sampel kecil) dan begitu saja, kesimpulan definitif mengenai faktor-faktor risiko dalam onset depresi postpartum tidak dapat ditarik dari data-data tersebut. Dalam ulasan penelitian tahun 2005 menyimpulkan penelitian dengan karakteristik metodologi kuat dan mengusulkan pemeriksaan faktor-faktor risiko dalam hal prediktor sedang sampai kuat, sedang, dan lemah. Dalam ulasan mereka, mereka menyajikan ukuran efek dengan jumlah yang lebih tinggi yang mencerminkan lebih kuatnya hubungan dan ukuran efek negatif yang mengindikasikan adanya hubungan terbalik. Prediktor tertinggi depresi postpartum adalah riwayat depresi sebelumnya atau gangguan psikiatrik lainnya. Kemudian resiko sedang-berat yaitu kurangnya dukungan sosial dan adanya tekanan hidup seperti perceraian, pengangguran, kematian orang yang disayangi, kekerasan masa kecil, konflik pernikahan, dan kekerasan lainnya. Yang menjadi resiko sedang adalah kepribadian ibu. Selanjutnya yang juga menjadi faktor resiko depresi postpartum namun hanya memiliki sedikit efek yaitu riwayat keluarga dengan gangguan psikiatrik, status sosial ekonomi, faktor obstetrik seperti persalinan dengan seksio sesarea, serta komplikasi kehamilan lainnya, etnis,dan usia.

Penelitian juga telah membuktikan adanya hubungan antara masalah maternal dan medis fetus dan onset depresi postpartum. Khususnya, ibu-ibu yang mengalami peningkatan gejala klinis fisik (seperti sakit kepala, nyeri punggung dan perdarahan per-vaginal), memiliki keterbatasan dalam fungsi secara fisik (seperti mandi dan memberi bayi makan), dan dilaporkan memiliki bayi yang menyusahkan, lebih cenderung memiliki depresi postpartum. Menariknya, satu penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan jumlah sakit dan tingginya jumlah kunjungan antenatal secara klinis merupakan prediktor terbaik depresi postpartum. Sebagai tambahan, masalah medis bayi, termasuk memiliki bayi yang meresahkan, tampaknya meningkatkan risiko ibu untuk terkenanya depresi postpartum.

Baca Juga: Definisi depresi postpartum

                faktor predisposisi depresi postpartum

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :