RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

Ringkasan Pengkajian Sistem

A.    Data yang perlu didapatkan dalam pengkajian pada sistem muskuloskeletal

      Gangguan muskuloskeletal (MSK) merupakan gangguan yang sering terjadi (Modya & Brooks, 2012). Pengkajian system MSK terdiri atas riwayat pasien dan pemeriksaan fisik untuk menegakkann suatu diagnose (Browne & Merrill, 2015). Dalam pengkajian system MSK akan dicari jawaban atas pertanyaan: Siapa (Who)? Apa (When)? Mengapa (Why)? Dimana (Where)? Pada tingkat apa (To what extent)? Setiap pertanyaan akan menggiring pada profil klinis dan seringkali berperan penting dalam keputusan triage (Browne & Merrill, 2015).
Who (Siapa)?
       Pertanyaan ini seringkali berfokus pada usia, namun juga termasuk tingkat aktivitas. Jenis pekerjaan serta hobi pasien juga merupakan pertimbanngan yang penting dalam mengkaji system MSK.
What
     Pertanyaan ini untuk mengidentifikasi keluhan utama pasien. Walaupun sebagian besar pasien akan melaporkan Nyeri sebagai keluhan utama, namun keluhan akan perubahan sensoris perlu dikaji untuk mengidentifikasi adanya gangguan pada system saraf.
When
      Pertanyaan ini untuk mengidentifikasi tingkat keparahan gejala dimana hal tersebut merupakan bagian yang penting dalam suatu keputusan triage. Nyeri akut nontrauma pada MSK yang terjadi pertama kali seringkali sembuh dengan cepat dan spontan. Nyeri MSK akut dari trauma makro-mikro memiliki rentang waktu 10-14 hari. Saat gejala dan deficit fungsional pasien muncul hingga lebih dari beberapa minggu akan terjadi kompensasi yang akan mengganggu pola pergerakan pasien sehingga program rehabilitasi akan memanjang.
Where
       Pertanyaan ini untuk mengidentifikasi region atau lokasi dari gejala yang timbul yang akan menggiring pada diagnose banding. Sangat penting untuk mngidentifikasi lokasi tambahan dari gejala yang dirasakan oleh pasien. Contohnya pada kasus nyeri pada bahu sangatlah jarang dilaporkan berasal dari leher.
Why
     Pertanyaan ini untuk mendapatkan inti dari nyeri yang timbul. Kemungkinan yang terjadi adalah yeri akibat trauma dan nontrauma.


Sampai Taraf apa?
      Fokus pertanyaan ini adalah untuk mengidentifikasi ketetapan dan iritabilitas gejala pasien. Gejala yang menetap seringkali berasal dari proses inflamasi akut, mecakup sinovitis sendi, gangguan tulang, bursitis, gangguan tendon akut dan gangguan saraf akut. Nyeri yang intermitten (hilang timbul) seringkali karena postural atau posisi badan.
Pemeriksaan Fisik
      Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan secara sistematis agar mendapatkan hasil yang menyeluruh. Salah satu pendekatan sistematik adalah dengan menggunakan akronim SMART
S – singkatan dari Scan/Survey. Secara visual menginspeksi area yang menjadi keluhan utama misalnya bengkak (inflamasi), deformitas (fraktur/dislokasi), atropi (penekanan saraf), serta eritema dan bengkak (kemungkinan merupakan tanda adanya infeksi). Di sisi lain adalah mencari pembanding atau control dengan memeriksa pembesaran sendi yang dikeluhkan dibandingkan dengan sisi yang lain, hal ini menunjukkan osteoartritis
M – singkatan dari Motion/active motion. Gerakan aktif yang dilakukan oleh pasien. Tujuan utama dari gerakan aktif adalah untuk mengkaji kesediaan pasien untuk bergerak yang diterjemahkan untuk membantu mengidentifikasi iritabilitas pada gangguan MSK yang dialami. Berkurangnya gerakan aktif seringkali akibat nyeri namun juga dapat disebabkan rupture komplit (tendon patella) atau denervasi (foot drop) dimana dalam keadaan ini pasien ingin bergerak namun tidak bisa. Untuk menentukan apakah pasien memiliki gangguan sendi maka pengkajian gerakan pasif perlu dilakukan.
A – assisted/passive motion. Gerakan pasif dilakukan oleh pemeriksa terhadap pasien. Tekanan yang lebih diberikan pada jangkauan sendi untuk menekan sendi, hal ini dilakukan untuk menentukan apakah terdapat gangguan pada sendi atau gangguan kapsul sendi serta menentukan dimana gejala tersebut dimulai dalam jangkauan gerak. Pada gangguan yang lebih berat, pasien akan melaporkan rasa nyeri .
R – singkatan dari resisted test. Tes resistensi (tes ketahanan) ini untuk mengkaji kesehatan otot dan tendon terkait.  Contohnya pada gambar di bawah.


Gambar 

Test Resistensi : Respon terhadap tes

Bebas dari nyeri dan kuat: normal, otot atau tendon sehat

Kuat dan nyeri: tendonitis atau sedikit gangguan

Lemah dan nyeri: gangguan luas pada otot atau tendon

Lemah dan tidak nyeri: rupture komplit pada tendon atau otot

 
T – singkatan dari Test, tes khusus. Tes khusus ini dilakukan untuk mengidentifikasi nyeri sendi radiohumoral sebagai penyebab nyeri. Ada banyak hingga ratusan tes khusus pada pengkajian MSK, beberapa sulit dilakukan beberapa umum dilakukan. Sayangnya spesifisitas dan sensitivitas pada banyak tes bukanlah alat diagnosis yang cukup kuat.
Pemeriksaan tersebut dibarengi palpasi untuk konfirmasi temuan pemeriksaan SMART.

B.     Data yang perlu didapatkan dalam pengkajian pada sistem Hematologi

Data yang perlu dikaji pada system hematologi adalah riwayat pasien, bagaimana kondisi pasien saat melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini untuk menentukan apakah pasien mengalami hipoksia. Mengkaji adanya kelemahan, nafas pendek serta episode tak bernafas merupakan kunci untuk menemukan adanya defisiensi atau gangguan hematologi. Tanda fisik yang akan membantu dalam pengkajian kapasitas oksigen dalam darah yaitu: warna kulit, RR, pola nafas, Heart Rate, suhu tubuh.
Analisa komponen darah juga merupakan hal yang penting dalam pengkajian hematologi (Healthcare, Hematological Anatomy, Physiology and Assessment, 2015).


 C.    Data yang perlu didapatkan dalam pengkajian pada sistem pernafasan

      Saat melakukan pengkajian pada system respirasi orang dewasa, sangtalah penting memulai dengan riwayat serta keluhan pernafasan oleh pasien (Healthcare:, 2014). Data yang perlu didapatkan pada pengkajian system pernafasan adalah:
Batuk:  batuk merupakan gejala yang umum pada gangguan respirasi (P Jevon, 2000). Durasi pada batuk perlu dikaji. Batuk akut biasanya menunjukkan adan infeksi virus atau respon terhadap alergi (Healthcare:, 2014).  Jenis batuk, batuk yang produktif biasanya mengindikasikan adanya infeksi atau proses inflamasi sedangkan batuk kering atau non produktif kemungkinan mengindikasikan pneumonia “atipikal”. Severity yaitu tingkat keparahan dengan menanyakan skala 1-10 kepada pasien. Timing yaitu batuk yang semakin parah  dan frekuensinya semakin sering saat malam hari biasanya mengindikasikan adanya gangguan jantung yang mendasari batuk, batuk yang semakin parah setelah makan kemungkinan mengindikasikan adanya penyakit refluks gastroesofagus, sedangkan batuk yang terus menerus mengindikasikan gangguan bronchitis dan kadang disebut “batuk perokok”. Adanya rasa nyeri saat batuk, suara nafas juga perlu dikaji (Moore, 2007).
Produksi sputum: karakteristik sputum perlu dikaji seperti durasi sudah memproduksi sputum, warna sputum, adanya bau, dan adanya darah di sputum juga perlu ditanyakan. Jumlah sputum.

D.    Data yang perlu didapatkan dalam pengkajian pada sistem Neurologi

       Riwayat neurologis serta pemeriksaan neurologis perlu dilakukan untuk menentukan apakah system saraf atau otak mengalami gangguan. Hal ini dikarenakan tanda dan gejala khusus pada pasien berkaitan dengan area tertentu di otak (Healthcare, 2014). Mengkaji riwayat pasien perlu dilakukan untuk mencari tahu penyebab utama terjadinya suatu gangguan neurologi. Sebelum mengkaji perlu ditanyakan adanya keluhan pingsan dan vertigo serta kejang. Pemeriksaan yang dilakukan dibagi menjadi 7 kategori (Glass & Zazulia, 2011):
      Pemeriksaan status mental: pemeriksaan status mental mengkaji tingkat kesadaran pasien, perhatian pasien, orientasi tempat/waktu/orang, pembicaraan dan bahasa, memori serta fungsi intelektual luhur seperti pengetahuan umum, abstraksi, penilaian dsb. Penurunan pada tingkat kesadaran merupakan tanda awal adanya gangguan di system saraf pusat (Restrepo, 2011)

Saraf cranial: pemeriksaan saraf karnial berjumlah 12 saraf yang perlu dikaji (Restrepo, 2011).

System motorik: pemeriksaan motorik pasien tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan otot namun juga usaha, koordinasi dan fungsi ekstrapiramidal.

Reflex

System sensoris

Koordinasi

Gait dan station

 

Daftar Pustaka
Browne, K. L., & Merrill, E. (2015). Musculoskeletal Management Matters: Principles of Assessment and Triage for the Nurse Practitioner. The Journal for Nurse Practitioners - JNP , 11 (10), 929-939.

Glass, A., & Zazulia, A. R. (2011). Clinical Skills: Neurological Examination. Retrieved 2016, from The Bates neurology section: http://vlrc.fitne.net
Healthcare, A. (2014). Focused Neurological Assessment. AMN Healthcare Education service .
Healthcare, A. (2015). Hematological Anatomy, Physiology and Assessment. Wilkins.
Healthcare:, A. (2014). Focused Pulmonary Assessment. AMN Healthcare .
Modya, G. M., & Brooks, P. M. (2012). Improving musculoskeletal health: Global issues. Best Practice & Research Clinical Rheumatology , 26, 237–249.
Moore, T. (2007). Respiratory assessment in adults. learning zone respiratory focus .
P Jevon, B. E. (2000). Assessment of a breathless patient. Nursing Standard .
Restrepo, R. D. (2011). Neurologic Assessment. Wilkins.
 
 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :