RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

Analisa Proses Interaksi (API)

Komunikasi terapeutik merupakan dasar untuk membangun hubungan terapeutik antara perawat-klien. Sebagai bentuk evaluasi bagaimana proses interaksi yang telah dilakukan oleh perawat dengan klien itu sudah merupakan komunikasi terapeutik, maka proses tersebut dituangkan dalam API (Analisa Proses Interaksi).

Untuk dapat lebih memahami tentang komunikasi terapeutik, materi dapat di download di link berikut:

Download : Materi API


1. Ika Zulkafika Mahmudah

pada : 12 April 2017

"Analisa Proses Interaksi (API) merupakan Interactional Process Analysis, yakni alat kerja yang digunakan oleh perawat (mahasiswa) untuk memahami interaksi yang terjadi antara perawat dan klien. Alat komunikasi ini terjadi antar tim keperawatan dan kesehatan dalam bentuk pencatatan dan pelaporan. Aspek yang penting dicatat dan dilaporkan dalam keperawatan jiwa adalah pola perilaku dan hubungan interpersonal perawat-klien.
Tujuan dari API adalah :
1. Meningkatkan kemampuan mendengar
2. Meningkatkan kemampuan komunikasi
3. Memberikan dasar belajar, yakni berupa alat untuk mengkaji kemampuan perawat (mahasiswa) dalam berinteraksi dengan klien, dan sebagai data bagi CI/supervisor/pembimbing guna memberikan arahan.
4. Meningkatkan kepekaan perawat terhadap kebutuhan klien, serta memudahkan perkembangan dan perubahan pendekatan oleh perawat terhadap klien
5. Membantu perawat merencanakan tindakan keperawatan
Ada 3 macam catatan yakni :
1. Catatan perkembangan (proses keperawatan)
2. Catatan hubungan perawat klien. Secara verbal dapat berupa video tape; tape recording, catatan secara garis besar, catatan interaksi.
3. Catatan resume
Komponen API :
1. Komunikasi verbal dan non-verbal perawat dan klien
2. Analisa dan identifikasi perasaan perawat serta kemungkinan komunikasi yang dapat dilakukan perawat
3. Analisa dan identifikasi persepsi perawat terhadap emosi dan komunikasi klien
4. Analisa makna dan rasional dari komunikasi
5. Kesan atau evaluasi terhadap efektivitas dari komunikasi berdasarkan data 1 sampai dengan 4
6. Rencana lanjutan tindakan keperawatan

KOMUNIKASI VERBAL
P : Selamat sore Pak, boleh saya duduk di sebelah Bapak ?



K : Sore, silahkan.
P : Wah, suasana sore ini sejuk sekali ya Pak


K : (diam)
P : Oh ya, perkenalkan saya Made, saya mahasiswa praktek disini yang akan merawat Bapak.
K : (diam)
P : Nama Bapak siapa ?




K : Ong. Ong Tian Bian.
P : Bapak senangnya dipanggil dengan nama apa

K : Ong.
P : Wah, kedengarannya enak kalau saya manggil Pak Ong


K : Iya
P : Bapak asalnya dari mana Pak Ong?


K : Salatiga, Jawa Tengah
P : Wah, jauh juga ya. Bapak Ong sudah berapa lama disini?




K : Lama! Dua puluh tahun.
P : Sejak tahun berapa Bapak disini ?


K : Yach, delapan puluh tiga



P : Sekarang Bapak Ong umurnya berapa?


K : Em…56 tahun
P : Pak Ong ingat nggak, kenapa pak Ong dirawat disini

K : Saraf, sakit saraf. ECT, ini di ECT.
P : Pak Ong pernah ngamuk?


K : Nggak, nggak, saya suka ngelamun. Enak sendirian. Kakak saya sudah meninggal tapi hidup lagi. Itu dia !!
P : -


K : Kakak saya orangnya sukses, sayang mati, anak saya tujuh belas semuanya di Jerman.
P : Bapak Ong sudah berkeluarga?

K : Anak saya di Jerman dan di Peking. Saya profesor, ngajar di UI, bolak-balik dari Bandung ke Jerman.
P : -



K : Keadaan diluar perang, Ong pusing mikirin biaya anak-anak, pada kuliah.
P : Pak Ong, kegiatan bapak sehari-hari ngapain saja Pak ?

K : Mandi, makan ehm…ya itu.
P : Kemudian?


K : Baca-baca buku. Saya kan profesor.
P : Bapak Ong betah tinggal di sini?Suasananya enak ya!

K : Betah.
P : Tentunya keluarga Bapak Ong suka menjenguk kesini.


K : Sebulan sekali.
P : Kalau Pak Ong suka pulang juga ya?

K : Ya, sebulan sekali juga
P : Kalau di rumah, ngapain aja Pak Ong



K : Yah, tidur dan baca-baca buku penelitian. Profesor harus banyak baca.
P : Suka ngobrol nggak dengan keluarga

K : Enakan diem, soalnya mengganggu saya baca buku
P : Bagaimana perasaan Pak Ong sekarang?

K : Saraf, sakit saraf. Kakak saya hidup lagi, itu dia.

P : -


K : Dia sukses.
P : Pak Ong, kita tadi sudah berkenalan, masih inget nggak nama saya?

K : Made
P : Nah, saya senang sekali bisa ngobrol dengan pak Ong. Bagaimana kalau selesai makan kita ngobrol lagi? Sebentar saja kok, yach cukup 20 menit saja.

K : Boleh
P : Nah kalau Pak Ong setuju, nanti kita ngobrol tentang perasaan Pak Ong terhadap keluarga Pak Ong. Sekalian saya periksa tekanan darahnya ya.

K : Ya, ya….
P : Terimakasih atas kesediaan Pak Ong ngobrol dengan saya, selamat sore

K : Sore.

KOMUNIKASI NON VERBAL
P: Memandang K dan tersenyum
K: Ekpresi datar



K: Ekpresi datar
P: Memandang K
P : Memandang ke halaman sambil melirik K
K : Ikut melihat ke halaman lalu menghisap rokoknya dan menunduk lagi
P : Memandang K sambil menjulurkan tangan ke K
K : Mengalihkan rokok ke tangan kiri lalu tanpa memandang P menerima uluran tangan P

P : Masih menjabat tangan pasien dan mendekatkan diri ke-K
K : Menoleh sebentar

K : Menyebut nama dengan menunduk dan menarik tangannya
P : Memandang K
K : Menoleh ke halaman

K : Melihat ke arah P dan menjawab singkat lalu menunduk lagi
P : Memandang K sambil tersenyum
K : Menunduk

K : Menoleh ke P
P : Memperhatikan K

P : Memandang K
K : Menunduk dan berpikir


K : Menoleh ke P dan tersenyum lalu menunduk lagi
P : Memperhatikan K

P : Memandang K sambil tersenyum
K : Menghisap rokok dan melemparkannya karena sudah habis

K : Bicara tanpa menoleh P
P : Memandang K
P : Menunjukkan perhatian
K : Menunduk sambil memandang kakinya

K : Masih menunduk
P : Memperhatikan
P : Mendekatkan diri ke K
K : Menoleh ke halaman dan terdiam beberapa lama

K : Menoleh P sebentar lalu menunduk lagi
P : Tersenyum
P : Menunjukkan keseriusan
K : Menunduk

K : Menoleh ke P dan menepuk-nepuk kepalanya
P : Bertanya pelahan
K : Menunduk

K : Menoleh ke halaman lalu menunjuk-nunjuk
P : Memperhatikan respon pasien
P : Masih kaget
K : Memandang ke halaman

K : Menunjuk ke halaman dan nyerocos
P : Memperhatikan
P : Mendekatkan diri
K : Memandang kosong ke halaman
K : Menunduk sambil nyerocos
P : Memperhatikan
P : Memperhatikan
K : Menunduk


K : Berbisik pada P dengan nada sedih
P : Mendengarkan dengan serius
P : Menepuk bahu K
K : Menoleh P

K : Menggaruk-garuk kepalanya
P : Memperhatikan respon K
P : Menekankan pertanyaan
K : Menunduk

K : Menoleh P
P : Memperhatikan
P : Melihat halaman
K : menunduk

K : Ikut melihat halaman
P : memperhatikan
P : Memandang K sambil tersenyum
K : Menoleh P

K : Menunduk lagi
P : Memperhatikan respon K

P : Memandang K
K : Menunduk

K : Menoleh P dan tersenyum
P : Memperhatikan
P : Memandang K sambil tersenyum
K : Menoleh P lalu melihat ke halaman

K : Memandang P
P : Memperhatikan respon K
P : Memandang K
K : Menunduk

K : Menunduk
P : Memperhatikan
P : Memandang K
K : Menunduk

K : Menggaruk-garuk kepala
P : Memperhatikan
P : Memandang halaman
K : Ikut memandang halaman

K : Menunjuk ke halaman
P : Kaget dan memperhatikan respon K

P : Memandang K
K : Menoleh


K : Memandang P dan tersenyum
P : Memperhatikan

P : Menepuk bahu K
K : Menoleh dan tersenyum




K : Tersenyum
P : Tersenyum

P : Memandang K
K : Menunduk




K : Mengangguk
P : Tersenyum


P : Menepuk bahu K dan mengulurkan jabat tangan
K : Menoleh, menjabat tangan P

K : Tersenyum lalu menunduk
P : Tersenyum

ANALISA BERPUSAT PADA PERAWAT
P : Ingin membuka percakapan dengan klien dan berharap dengan sapaan sederhana P bisa diterima oleh K.

P merasa senang ada tanggapan atas salam walaupun belum diekpresikan secara tulus
P ingin memulai percakapan dengan topik ringan sebelum masuk ke kondisi K
P merasa bahwa K harus diberikan penjelasan tentang kedatangan P
P ingin tahu nama pasien




P merasa pasien enggan berkenalan
P ingin menjalin kedekatan dengan pasien

P senang walaupun jawaban singkat
P mencoba mengakrabkan suasana


P merasa pertanyaan mendapatkan respon
P masih berusaha membangun keakraban dengan topik sederhana

P senang karena K memberi respon

P mulai mengkaji data umum pasien




P khawatir kalau pertanyaan membuat K tersinggung
P berharap dapat memperoleh data lama rawat secara lebih pasti sambil mengkaji daya ingat pasien
P senang karena mendapat respon dari K
P mengkaji daya ingat K



P merasa arah pertanyaan sudah dapat dijawab jelas oleh K
P berhati-hati karena pertanyaan tsb sangat spesifik dan takut menyinggung pasien
P lega karena K tidak tersinggung

P mengkaji lebih jauh alasan pasien dirawat

P kaget, dan sadar kalau pasien mengalami halusinasi lihat
P mendiamkan karena belum menemukan pertanyaan yang tepat untuk K
P menemukan adanya flight of ideas dan berpikir tentang faktor penyebab
P berusaha mengkaji data yang terkait kata-katanya tadi

P menemukan adanya kemungkinan waham kebesaran pada pasien
P mendiamkan dengan harapan pasien akan lebih terbuka tetang dirinya

P menemukan adanya fligt of ideas
P mencoba mengalihkan pembicaraan terkait waham

P merasa senang karena pasien bisa beralih
P mencoba menggali data lebih dalam

P menemukan lagi adanya kemungkinan waham
P mengalihkan perhatian K dari waham

P senang karena dapat mengalihkan perhatian pasien
P ingin mengkaji keterlibatan keluarga terhadap perawatan K


P senang mendapatkan jawaban K
P mengkaji hubungan K dengan keluarganya

P senang mendapatkan jawaban sesuai pertanyaan
P berusaha mengkaji aktivitas K di rumah



P menemukan pengulangan terhadap waham pada K
P mengkaji peran keluarga terhadap K

P mendapatkan data menarik diri pada K
P mengalihkan topik bahasan


P bingung harus ngobrol tentang apa lagi
P memikirkan topik lain yang terkait

P kaget karena kembali menemukan adanya halusinasi pada K
P ingin mengakhiri fase I karena sudah cukup banyak data yang terkaji

P senang karena K ingat nama P
P memberikan reinforcement pada K




P senang karena K mau menentukan kontrak berikutnya
P menentukan topik dan aktivitas pada kontrak berikutnya




P senang karena K setuju dengan kegiatan yang akan dilaksanakan
P menutup fase I



P senang karena K mau berinteraksi dengan P

ANALISA BERPUSAT PADA KLIEN
K masih ragu terhadap orang baru yang masuk ke lingkungannya


K ragu terhadap orang baru
K memberikan respon sepintas dan menunjukkan perhatian cukup terhadap P
K masih memberikan tanggapan secara ragu-ragu
K ragu-ragu




K merasa perkenalan hanya formalitas belaka
K mencoba mengingat nama yang disukainya

K mulai tertarik dengan perkenalan dengan P

K berpikir sejenak, mengngingat nama yang disukainya


K mulai merasa bahwa P datang untuk membantu K

K berpikir dan mengingat-ingat



K senang karena ingat daerah asalnya dan kembali membayangkan daerah asalnya tersebut
K berpikir dan berusaha mengingat




K membayangkan keadaan yang telah lama dijalaninya
K berusaha mengingat



K menjawab dengan sekedarnya
K berusaha mengingat-ingat



K menjawab sesuai dengan daya ingat yang dimilikinya
K mengingat-ingat


K menjawab ragu-ragu
K mengingat-ingat


K mengalami halusinasi lihat

K melihat kakaknya dan mencoba menceritakannya pada P

K teringat kondisi keluarganya
K membayangkan keadaan keluarganya

K menikmati waham yang dirasakannya
K membayangkan ank-anaknya



K sedih tentang anaknya
K teralih karena pertanyaan baru


K bingung tentang yang dilakukannya sehari-hari
K mengingat-ingat


K merasa dirinya harus rajin belajar
K masih terbawa oleh waham


K berusaha menjawab sekenanya
K berusaha mengingat keluarganya


K ingat terhadap keluarganya
K mengingat hubungannya dengan keluarga

K senang membayangkan pulang
K mengingat aktivitasnya di rumah



K menikmati waham yang dialaminya
K mengingat aktivitasnya di rumah

K menganggap ngobrol mengganggu wahamnya
K bingung dengan pertanyaan yang diberikan

K menjawab tentang keadaannya
K merenungkan keadaannya


K menikmati halusinasi lihatnya

K memperhatikan P



K mengingat-ingat nama P
K senang diberikan reinforcement




K ikut menentukan kontrak
K memikirkan tentang kegiatan yang ditawarkan




K setuju tentang kegiatan yang akan dilaksanakan
K menunjukkan rasa percaya pada P


K menyambut salam P

RASIONAL
Salam merupakan kalimat pembuka untuk memulai suatu percakapan sehingga dapat terjalin rasa percaya.
Topik ringan akan memudahkan interaksi lebih lanjut
Memperkenalkan diri dapat menciptakan rasa percaya klien terhadap perawat
Mengenal nama pasien akan memudahkan interaksi
Nama panggilan merupakan nama akrab klien sehingga menciptakan rasa senang akan adanya pengakuan atas namanya
Pujian berguna untuk mendekatkan perawat menjalin hubungan therapeutik dengan klien
Topik sederhana membantu menjalin kedekatan dengan klien
Lama rawat menentukan apakah klien kronis atau akut
Daya ingat pasien dapat dikaji dengan menanyakan data-data pasien yang sederhana
Umur mempengaruhi daya ingat klien
Keluhan utama merupakan dasar pasien dirawat di RS Jiwa
Halusinasi dapat terjadi kapan saja karena adanya stimulus tertentu
Dengan diam therapeutik, klien merasa didengarkan dan bercerita tentang keadaannya
Waham kemungkinan terjadi karena menarik diri
Diam therapeutik akan membantu pasien mengungkapkan perasaannya pada perawat
Pengalihan agar klien tidak larut dalam waham dan halusinasinya
Tehnik ekplorasi berguna untuk mendapatkan lebih banyak data terkait masalah klien
Pengalihan agar pasien tidak larut pada waham dan halusinasinya pada fase interaksi ini
Keluarga merupakan support sistem bagi klien sehingga harus dikaji keterlibatannya
Berada di lingkungan keluarga akan membuat klien melihat realitas menyenangkan atau malahan stressor
Aktivitas di rumah merupakan data pantas tidaknya pasien dilibatkan dalam keluarga
Menarik diri membuat K asyik dengan dunianya sendiri
Pengalihan agar K tidak larut dengan wahamnya
Diam berguna untuk memikirkan interaksi selanjutnya
Evaluasi fase I berhasil jika K dapat mengingat nama P sehingga nantinya terjalin trust
Kontrak berikutnya harus ditentukan dan harus mendapatkan persetujuan klien agar klien ingat terhadap kontrak
Kegiatan yang akan dilaksanakan harus mendapat persetujuan K sehingga bila K keluar dari kegiatan dimaksud, bisa diingatkan tentang batasan kegiatan sesuai kontrak
Salam penutup merupakan akhir fase yang harus dilakukan untuk mencegah tidak percaya pada klien
"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :