RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

Konsep Stress

Definisi stres
       Istilah stres bukanlah kosakata baru. Istilah stres di Indonesia telah dikenal sejak tahun 80-an dan hampir masuk menjadi bahan pembicaraan setiap orang diberbagai kesempatan, saat santai ataupun serius. Istilah stres sendiri sesungguhnya berasal dari bahasa latin yaitu berasal dari kata “stringere” yang mempunyai arti ketegangan, dan tekanan. Stres merupakan reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dan lain-lain (Sunaryo, 2004). Stres merupakan reaksi yang tidak diharapkan yang muncul disebabkan oleh tingginya tuntutan lingkungan kepada seseorang. Dimana antara harmoni atau keseimbanagn antara kekuatan dan kemampuannya terganggu (Mardiana, 2014).
        Stres merupakan efek fisik, psikologis, sosial atau spiritual dari tekanan tekanan dan peristiwa-peristiwa hidup (Edelman & Mandle 2010). Potter & Perry (2005) berpendapat bahwa stres merupakan segala situasi dimana tuntutan nonspesifik mengharuskan individu untuk berespons melakukan tindakan. Stres juga didefinisikan sebagai pengalaman emosional yang negatif disertai oleh perubahan biokimia, fisiologis, kognitif, dan perilaku yang dapat diramalkan dan segera menggantikan peristiwa yang menekan atau menyesuaikan efek-efeknya (Taylor, 2009).

 
Penyebab stres
        Stresor (sebagai stimulus stres) adalah variabel yang dapat diidentifikasikan sebagai penyebab timbulnya stres. Stresor ini dapat sendirisendiri atau dapat pula bersamaan dan sering kali stresor saling memperberat antara satu dengan yang lainnya atau bahkan bisa sebaliknya tergantung individu yang menerima stresor (Syamsun, 2009). Lansia mengalami beberapa perubahan diantaranya perubahan kondisi fisik, psikologis, dan sosial. Perubahan-perubahantersebut secara langsung atau tidak langsung dapat merupakan penyebab lansia mengalami stres (Idris, 2015).

Penggolongan stres
        Branch Grand (2000) dalam Sunaryo (2004) membedakan stres menjadi 2 macam ditinjau dari penyebabnya yaitu:
1. Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan seperti kematian, perceraian, pensiunan, luka batin, dan kebangkrutan.
2. Penyebab mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil sehari-hari, seperti pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akandimakan, dan antri.


Penilaian terhadap stresor
         Penilaian terhadap stresor meliputi penentuan arti dan pemahamanterhadap pengaruh situasi yang penuh dengan stres bagi individu. Penilaian terhadap stresor ini meliputi respons kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan respons sosial. Penilaian adalah dihubungkan dengan evaluasi terhadap pentingnya suatu kejadian yang berhubungan dengan kondisi sehat (Yusuf, 2015).
1. Respons kognitif: Respons kognitif merupakan bagian kritis dari model ini. Faktor kognitif memainkan peran sentral dalam adaptasi. Faktor kognitif mencatat kejadian yang menekan, memilih pola koping yang digunakan, serta emosional, fisiologis, perilaku, dan reaksi sosial seseorang. Penilaian kognitif merupakan jembatan psikologis antara seseorang dengan lingkungannyadalam menghadapi kerusakan dan potensial kerusakan. Terdapat tiga tipe penilaian stresor primer dari stres yaitu kehilangan, ancaman, dan tantangan.

2. Respons afektif: Respons afektif adalah membangun perasaan. Penilaian terhadap stresor respons afektif utama adalah reaksi tidak spesifik atau umumnya merupakan reaksi kecemasan, yang hal ini diekpresikan dalam bentuk emosi. Respons afektif meliputi sedih, takut, marah, menerima, tidak percaya, antisipasi, atau kaget. Emosi juga menggambarkan tipe, durasi, dan karakter yang berubah sebagai hasil dari suatu kejadian.

3. Respons fisiologis: Riset klasik yang dilakukan oleh Selye (1946) yang dikemukakan dalam Potter & Perry (2005), telah mengidentifikasi dua respons fisiologis terhadap stres, yaitu:
1) Local Adaptation Syndrome (LAS): (Local Adaptation Syndrome) LAS adalah respons jaringan, organ, atau bagian tubuh terhadap stres. Tubuh menghasilkan banyak respons setempat terhadap stres. Respons setempat ini termasuk pembekuan darah, penyembuhan luka, akomodasi mata terhadap cahaya, dan respons terhadap tekanan.Semua bentuk LAS mempunyai karakteristik berikut:
(1) Respons yang terjadi adalah setempat, respon ini tidak melibatkan seluruh sistem tubuh.
(2) Respons adalah adaptif, berarti bahwa stresor diperlukan untuk menstimulasinya.
(3) Respons adalah berjangka pendek, respons tidak terdapat terus menerus.

(4) Respons adalah restortif, berarti bahwa LAS membantu dalam memulihkan homeostatis region atau bagian tubuh.

2) General Adaptation Syndrome (GAS): General Adaptation Syndrome (GAS) adalah respons fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stres. Respons ini melibatkan beberapa sistem tubuh, terutama sistem saraf otonom dan sistem endokrin. GAS terdiri atas 3 fase, yaitu:
(1) Fase alarm: Reaksi alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stresor. Kadar hormon meningkat untuk meningkatkan volume darah dan dengan demikian menyiapkan individu untuk reaksi. Hormon lainnya dilepaskan untuk meningkatkan kadar glukosa darah untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi. Meningkatkan kadar hormon lain seperti epinefrin dan norepinefrin mengakibatkan peningkatan frekuensi jantung, meningkatkan aliran darah ke otot, meningkatkan pengambilanoksigen, dan memperbesar kewaspadaan mental. Aktivitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan respons melawan atau menghindar.

(2) Fase Resisten: Tubuh kembali menjadi stabil, kadar hormon, frekuensi jantung, tekanan darah, dan curah jantung kembali ke tingkat normal pada tahap resisten. Individu berupaya untuk mengadaptasi terhadap stresor. Apabila stres dapat diatasi, tubuh akan memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. Tetapi apabila stresor tetap terus menetap maka individu memasuki tahap ketiga dari GAS, yaitu tahap kehabisan tenaga.
(3) Fase kehabisan tenaga: Fase kehabisan tenaga atau fase kelelahan terjadi ketika tubuh
tidak dapat lagi melawan stres dan ketika energi yang diperlukan untuk mempertahankan adaptasi sudah menipis. Respons fisiologis menghebat, tetapi tingkat energi individu terganggu dan adaptasi terhadap stresor hilang. Tubuh tidak mampu untuk mempertahankan dirinya terhadap dampak stresor, regulasi fisiologis menghilang, dan jika stres berlanjut, dapat terjadi kematian.

4. Respons perilaku: Respons perilaku hasil dari respons emosional dan fisiologis.
5. Respons sosial: Respons ini didasarkan pada tiga aktivitas, yaitu mencari arti, atribut sosial dan perbandingan sosial.


Gejala-gejala stres
Terdapat 3 gejala yang mengindikasikan seseorang mengalami stres, yaitu (Wirawan, 2012):
1. Gejala fisik: Gejala fisik yang muncul akibat stres adalah lelah, insomnia, nyeri kepala, berdebar-debar, nyeri dada, napas pendek, gangguan lambung, mual, gemetar, ekstremitas dingin, wajah terasa panas, berkeringat, sering flu, menstruasi terganggu, otot kaku dan tegang terutama pada bagian leher, bahu, dan punggung bawah.
2. Gejala psikologis: Gejala psikologis atau mental yang muncul akibat stres seperti berkurangnya konsentrasi dan daya ingat, ragu-ragu, bingung dan pikiran jenuh. Cemas, depresi, putus asa, mudah marah, frustasi, phobia, rendah diri dan merasa tak berdaya juga menjadi beberapa indikator seseorang sedang mengalami stres.
3. Gejala perilaku: Gejala perilaku yang muncul adalah mondar-mandir, menggigit kuku jari, mengerak-gerakkan anggota badan atau jari-jari, kebiasaan menggarukgaruk kepala, perubahan pola makan, merokok, minum-minuman keras, menangis tiba-tiba, berteriak, mengumpat, bahkan melempar barang atau memukul.


Tingkat stres
1. Stres Ringan: Idris (2015) mengatakan pada fase ini seseorang mengalami peningkatan kesadaran dan lapang persepsinya.
2. Stres Sedang: Stres dengan tingkat sedang merupakan stres yang terjadi lebih lama, dari beberapa jam sampai hari. Fase ini ditandai dengan kewaspadaan, fokus pada indera penglihatan dan pendengaran, peningkatan ketegangan dalam batas toleransi, dan mampu mengatasi situasi yang dapat mempengaruhi dirinya (Idris, 2015).
3. Stres berat: Stres kronis yang terjadi beberapa minggu sampai tahun. Semakin sering dan lama situasi stres, semakin tinggi resiko kesehatan yang ditimbulkan (Potter & Perry, 2005).


1. aliani martika putri

pada : 30 March 2017

"Mohon penjelasan untuk stres yang dapat mnyebabkan sseorang mngalami gangguan jiwa, terimaksih sebelumnya"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :