RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

Konsep Pelatihan Ketrampilan Sosial (Social Skill Training)

 Konsep Pelatihan Ketrampilan Sosial (Social Skill Training)

Ketrampilan sosial meliputi ketrampilan-ketrampilan memberikan pujian, mengeluh karena tidak setuju terhadap sesuatu hal, menolak permintaan orang lain, tukar pengalaman, menuntut hak pribadi, memberi saran kepada orang lain, pemecahan konflik atau masalah, berhubungan atau bekerja sama dengan orang lain yang berlainan jenis kelamin, berhubungan dengan orang yang lebih tua dan lebih tinggi statusnya, dan beberapa tingkah laku lain sesuai dengan ketrampilan yang tidak dimiliki oleh klien (Michelson, dkk. 1985). Pelatihan ketrampilan sosial ini diberikan berdasarkan tingkah laku apa saja yang akan diubah dari individu yang bersangkutan (Bulkeley dan Cramer, 1990).

      Pelatihan ini dapat dilakukan dengan cara bermain peran, menirukan model yang diperankan video, menirukan model yang diperankan teman sebaya, dan setting in-vivo (Bulkeley dan Cramer, 1990). Beberapa teknik yang digunakan dalam pelatihan ketrampilan sosial adalah: 

(1) Modelling, yang dilakukan dengan cara  memperlihatkan contoh tentang ketrampilan berperilaku yang spesifik, yang diharapkan dapat dipelajari oleh pelatih. Model ini dapat langsung disajikan oleh terapis, pemeran atau aktor/aktris, model melalui video, ataupun gabungan dari model yang sesungguhnya dan model video. Untuk memenuhi tujuan ini  disusun langkah-langkah yang akan diperagakan oleh model, baik langsung maupun melalui kaset video. Ketrampilan yang diajarkan dapat berupa ketrampilan tunggal maupun ketrampilan kombinasi. Ketrampilan tunggal hanya memuat satu  jenis ketrampilan dasar saja, misalnya ketrampilan memulai pembicaraan, melakukan pembicaraan, mengakhiri pembicaraan dan seterusnya. Ketrampilan kombinasi memuat pelatihan mengenai aplikasi ketrampilan dasar untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan nyata.

(2)  Bermain Peran, dilakukan dengan cara mendengarkan petunjuk yang disajikan

model atau melalui video. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan diskusi mengenai aktivitas yang dimodelkan. Latihan verbalisasi sangat diperlukan di sini melalui diskusi mengenai kejadian-kejadian yang sering membuat peserta berada dalam kesulitan. Bagi pelatih, latihan ini dapat dilakukan dengan cara menyajikan situasi/model, dan menanyakan pada klien mengenai apa yang akan dilakukannya apabila berada dalam situasi seperti itu. Setelah diskusi selesai, latihan bermain peran dapat dilakukan.

(3)  Umpan Balik terhadap Kinerja yang Tepat, yang dilakukan dengan cara memberi pengukuh terhadap peserta yang menunjukkan kinerja yang tepat, apabila peserta berhasil melakukan peran yang dilatihkan secara in-vivo, maupun apabila peserta mengemukakan target perilaku yang ingin dilakukan.

Pelaksanaan pelatihan ketrampilan sosial dapat secara individual maupun kelompok. Ada beberapa keuntungan apabila pelatihan dilakukan secara kelompok, antara lain adalah penghematan tenaga, waktu, dan biaya. Di samping itu karena pelatihan ini untuk penderita kesulitan bergaul, maka dengan mengikuti pelatihan dalam kelompok yang merupakan miniatur dari kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, masing-masing anggota mendapat kesempatan melakukan praktek dalam kelompok sehingga mereka dapat melakukan perilaku sesuai contoh, dan merasakan emosi yang menyertai perilaku tersebut. Masingmasing anggota kelompok dapat saling memberi umpan balik, pengukuh, maupun dorongan. Keuntungan berlatih  dalam kelompok, peserta dapat merasakan adanya universalitas, artinya peserta menjadi sadar bahwa ada orang lain yang mengalami masalah serupa dengan dirinya. Hal ini membuat peserta merasa bukan hanya dirinya saja yang menderita hal tersebut (Yalom, 1975). Perasaan ini akan meningkatkan pembukaan diri (Meichenbaum, 1979) dan akan memberikan motivasi untuk berubah yang lebih besar.  

Dalam pertemuan pertama dari pelatihan perlu dijelaskan mengenai hal-hal yang terkait dalam pelatihan ketrampilan sosial, yaitu kesulitan bergaul, dasar-dasar pikiran mengenai penggunaan pelatihan ketrampilan sosial untuk membantu individu yang sulit bergaul, dan tujuan-tujuan pelatihan ketrampilan sosial. ada sesi-sesi pelatihan; masing-masing peserta sangat dituntut untuk aktif mencoba, berlatih, dan memberi masukan kepada peserta yang lain, maka suasana pelatihan diciptakan sedemikian rupa sehingga hubungan peserta dan pelatih dapat akrab.  Untuk itu perkenalan antara pelatih dan peserta, maupun antar peserta mutlak diiakukan di awal pelatihan. Perkenalan didahului oleh pelatih dilanjutkan oleh peserta satu persatu.

 Membangun harapan peserta merupakan bagian penting dalam peiatihan. Sesi

membangun harapan dilakukan di awal pelatihan, namun tidak tertutup kemungkinan

munculnya harapan baru selama pelatihan  berlangsung. Sebelum memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan harapan-harapannya, pelatih hendaklah memulai dengan mengemukakan harapan-harapannya. Harapan-harapan yang mungkin dapat dicapai peserta ini dapat diungkap dengan cara mengajak peserta mengisi lembar isian target perilaku yang hendak dicapai. Target perilaku ini diisi sendiri oleh peserta pelatihan, dengan demikian peserta dapat mempelajari proses-proses yang terjadi dalam dirinya selama pelatihan berlangsung.

Setelah sesi membina harapan peserta, pelatih dapat  langsung memandu peserta memulai pelatihan ketrampilan sosial. Pelatihan ini terdiri dari 13 contoh-contoh perilaku yang sering dilakukan dalam kehidupan seharihari. Perilaku-perilaku itu adalah 1) cara bertanya untuk tujuan konfirmasi, 2) cara memberi dan menerima pujian, 3) cara mengeluh dan menghadapi keluhan, 4) cara menolak, 5) cara meminta pertolongan, 6) cara menyatakan perasaan tidak pasti, 7) cara menyarankan perubahan perilaku, 8) cara menuntut hak, 9) cara terlibat dalam percakapan dengan menyenangkan, 10) cara berempati, 11) cara berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda status, 12) cara berinteraksi dengan teman-teman yang berlainan jenis kelamin, dan 13) cara berinteraksi dan bergabung ke dalam kelompok.

 Dalam pelatihan ketrampilan sosial ini, masing-masing ketrampilan di modelkan oleh model yang pasif, agresif, dan asertif. Dengan demikian, peserta pelatihan dapat membedakan antara ketiganya, memainkan perannya sehingga mereka dapat merasakan emosi-emosi yang menyertai setiap perilaku. Pelatihan ketrampilan sosial yang disusun ini sudah diteliti reliabilitasnya oleh Ramdhani (1993).

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :