RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

Penggalan Novel: My-More-I (belajar membuat cerita)

Pagi ini terasa seperti hari hari biasanya, udara yang panas seolah membakar tubuh,  terasa menyengat hingga ke dalam pikiran … Andar membolak-balik halaman buku yang dia pegang, matanya melihat tulisan tulisannya namun pikirannya seolah tak mau ikut kompromi..entah melayang kemana.

            “Hhh….tak bisakah kamu menyembunyikan kegalauanmu?” seorang pria dengan senyum yang agak sinis menyabet buku yang andar pegang yang sontak membuat andar kaget dan menatap si pengganggu berpikirnya.

            Senyum andar terlihat setengah sinis “ perlukah..?” tangan andar menyabet bukunya kembali

            Laki-laki itu pun tersenyum manyun sambil berjalan gontai dan duduk di sebelah andar sambil melepas tas ransel yang terlihat sangat berat dari punggungnya dan melemparnya ke lantai.

            “kamu selalu saja seperti ini, apa ada klien yang sulit lagi, hingga membuat pikiranmu jadi kacau seperti itu?” Tanya pria itu

            “tak ada lagi penyebab lain bukan?” Andar menatap pria itu dengan senyum setengah sinis andalannya.

Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing.

“kasus apa lagi sekarang?” Tanya Pria itu yang ternyata bernama Elang

“ini bukan tempat yang layak untuk berkonsultasi, aku akan menemuimu malam nanti, apa kau ada waktu?” tatapan andar tak berubah

“mampirlah…aku akan ada” jawab elang tersenyum

Andar langsung  berpamitan dan segera menuju kantornya yang hanya beberapa meter dari tempat itu.

-------------------------------------------------

-------------------------------------------------

Semua hal yang dialaminya begitu jelas tersimpan rapi di memorinya, elang menatap andar sekilas sambil menyeruput minumannya

            “Bisakah memori tertentu itu dihapus?” Suara andar yang lembut memecah kesunyian antara keduanya, mata andar terlihat memohon sebuah jawaban dari elang

“yaa..menurut teori bisa, seperti memindah barang yang dianggap tidak penting dan mengisi ruang kosong dengan memori baru yang penting” ujar Elang dengan senyum tipis bermaksud menghibur Andar

“Semudah itukah?” nada suara Andar semakin serius, tatapannya pada Elang masih tetap mengharap, Elang pun menarik nafas panjang,

“ Prosesnya mungkin tidak mudah, namun setiap usaha pasti menghasilkan produk entah produk yang sempurna ataupun cacat, tergantung input dan prosesnya, tergantung pula yang memediasinya, alias katalisatornya” ucap Elang tegas

“apa atau siapa yang mampu menjadi katalisatornya?” Andar berbalik Tanya pada Elang

Elang tertawa kecut, “kamu sendirilah yang tahu jawabannya..”

“bagaimana aku bisa tahu, itulah alasannya aku bertanya padamu agar kamu bisa memberikan aku sebuah jawaban” Andar terlihat sedikit putus asa

“terkadang jawaban itu ada dalam diri kamu sendiri” tatapan Elang yang lembut sedikit menenangkan Andar, membuat Andar menunduk ke hadapan laptopnya.

“dan kalau tidak ada” ujar Andar pelan

“tetaplah mencari” Tegas Elang

“apakah hidupku akan aku habiskan untuk mencari tanpa tahu kapan akan berhenti? Waktu tidak semudah itu sejalan dengan pikiranku” Andar berbicara sambil melihat laptopnya

‘ pencarian itu tak tergantung waktu, tapi tergantung padamu yang berusaha mencari, waktu bisa lambat bisa cepat, semua ada dalam pikiranmu” Jawab Elang

“kamu benar-benar memberi jawaban kosong yang membuat penuh kepalaku” Dengus Andar kesal, wajahnya yang cemberut mengundang Elang untuk tertawa.

“haha….kepalamu memang sudah penuh dari dulu, kamu tak pernah mengatur isi kepalamu agar rapi dan mudah dipahami”

“andaikan saja…” dengus Andar

“jangan menggunakan kata andainya jika itu hanya membuat kenyataan menjadi sebuah ilusi yang akan menarikmu ke tempat yang kamu sulit untuk keluar” Elang bicara sambil menatap Andar tajam, keduanya saling menatap, sunyi.

“bicara denganmu hanya membuang waktu” Andar buru-buru mematikan laptopnya dan sedikit salah tingkah.

“hahahaha….selalu saja seperti itu…tapi kamu tetap datang padaku bukan” ujar elang santai.

“yaa…aku tak memungkirinya….meski logikaku menolak tapi perasaanku tetap bertahan kepadamu” Andar berkata dengan nada kesal

“hahaha… itu adalah kepastian”

“sudahlah…aku akan kembali ke kantorku….” Ujar Andar sambil beranjak berdiri hendak pergi

“yaaa…jangan lupa pesananku…tidak ada rencana kata lupa di benakmu bukan?” Elang menatap Andar yang sudah berdiri di depannya.

Mendengus…dan berpaling “semua hal tak semulus rencana bukan” Jawab Andar sambil tersenyum tipis, dan pergi

Elang hanya tersenyum, menyeruput minumannya. Dia merasakan ada getaran di sakunya, dan segera mengambil ponselnya, wajahnya berubah getir saat melihat nama orang yang tertera di ponselnya.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :