RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

Harga Diri Rendah

Konsep Dasar Harga Diri
Definisi harga diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dan menganalisis seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Individu akan merasa harga dirinya tinggi bila sering mengalami keberhasilan. Sebaliknya, individu akan merasa harga dirinya rendah bila sering mengalami kegagalan, tidak dicintai, atau tidak diterima lingkungan. Harga diri dibentuk sejak kecil dari adanya penerimaan dan perhatian. Harga diri akan meningkat sesuai meningkatnya usia dan sangat terancam pada masa pubertas (Yusuf et al, 2015).
Menurut Stuart dan Sundeen (1998) harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya. Dapat disimpulkan bahwa harga diri menggambarkan sejauh mana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten. Secara singkat, harga diri adalah personal judgment mengenai perasaan berharga atau berarti yang diekspresikan dalam sikap-sikap individu terhadap dirinya.

Pembentukan harga diri
Harga diri mulai terbentuk setelah anak lahir, ketika anak berhadapan dengan dunia luar dan berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Interaksi secara minimal memerlukan pengakuan, penerimaan peran yang saling tergantung pada orang yang bicara dan orang yang diajak bicara. Interaksi menimbulkan pengertian tentang kesadaran diri, identitas, dan pemahaman tentang diri. Hal ini akan membentuk penilaian individu terhadap dirinya sebagai orang yang berarti, berharga, dan menerima keadaan diri apa adanya sehingga individu mempunyai perasaan harga diri (Burn, 1998).
Harga diri mengandung pengertian”siapa dan apa diri saya”. Segala sesuatu yang berhubungan dengan seseorang, selalu mendapat penilaian berdasarkan kriteria dan standar tertentu, atribut-atribut yang melekat dalam diri individu akan mendapat masukan dari orang lain dalam proses berinteraksi dimana proses ini dapat menguji individu yang memperlihatkan standar dan nilai diri yang terinternalisasi dari masyarakat dan orang lain. Harga diri seseorang diperoleh dari diri sendiri dan orang lain.

Aspek-aspek harga diri
Coopersmith (1998) membagi harga diri kedalam empat aspek yaitu,
a. Kekuasaan (power)
Kemampuan untuk mengatur dan mengontrol tingkah laku orang lain. Kemampuan ini ditandai adanya pengakuan dan rasa hormat yang diterima individu dari orang lain.
b. Keberartian (significance)
Adanya kepedulian, penilaian, dan afeksi yang diterima individu dari orang lain.
c. Kebajikan (virtue)
Ikuti standar moral dan etika, ditandai oleh ketaatan untuk menjauhi tingkah laku yang tidak diperbolehkan.
d. Kemampuan (competence)
Sukses memenuhi tuntutan prestasi.

Konsep Harga Diri Rendah
Definisi
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadp diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai dengan ideal diri (Keliat, 1998). Gangguan harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang, perlakuan orang lain yang mengancam dan hubungan interpersonal yang buruk.
Harga diri rendah adalah semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Harga diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia (Stuart & Gail, 2006).
Harga diri meningkat bila diperhatikan/dicintai dan dihargai atau dibanggakan. Tingkat harga diri seseorang berada dalam rentang tinggi sampai rendah. Harga diri tinggi/positif ditandai dengan ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok, dan diterima oleh orang lain. Individu yang memiliki harga diri tinggi menghadapi lingkungan secara aktif dan mampu beradaptasi secara efektif untuk berubah serta cenderung merasa aman sedangkan individu yang memiliki harga diri rendah melihat lingkungan dengan cara negatif dan menganggap sebagai ancaman (Yoseph, 2009).

Rentang Respon Harga Diri Rendah
Rentang respon harga diri rendah berfluktuasi dari rentang adaptif sampai rentang maladaptif (Stuart & Sundeent, 1998)
Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma, meliputi:
a. Aktualisasi diri : pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman yang sukses.
b. Konsep diri positif : klien memiliki pengalaman yang positif dalam perwujudan dirinya, dapat mengidentifikasi kemampuan dan kelemahan secara jujur dalam menialai suatu masalah sesuai norma-norma sosial dan kebudayaan suatu tempat jika menyimpang merupakan respon maladaptive.

Respon maladaptive meliputi:
a. Harga diri rendah : transisi antara adaptive dan maladaptive sehingga individu cenderung berfikir kearah negatif.
b. Kekacauan identitas : kegagalan individu mengintegrasi aspek masa kanak-kanak dalam pematangan aspek psikologis, kepribadian masa dewasa secara harmonis.
c. Depersonalisasi : perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan, dan tidak dapat membedakan dirinya dari orang lain sehingga tidak dapat mengenali dirinya sendiri.

Proses Terjadinya Harga Diri Rendah
Berdasarkan hasil riset Malhi (2016, dalam http:www.tqm.com) menyimpulkan bahwa harga diri rendah diakibatkan oleh rendahnya cita-cita seseorang. Hal ini mengakibatkan berkurangnya tantangan dalam mencapai tujuan. Tantangan yang rendah menyebabkan upaya yang rendah. Selanjutnya, hal ini menyebabkan penampilan seseorang yang tidak optimal. Dalam tinjauan life span history klien, penyebab terjadinya harga diri rendah adalah pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberi pujian atas keberhasilannya.
Saat individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa awal sering gagal di sekolah, pekerjaan, atau pergaulan. Harga diri rendah muncul saat lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuannya. Dalam Purba (2008), ada empat cara dalam meningkatkan harga diri yaitu:
1) Memberikan kesempatan berhasil
2) Menanamkan gagasan
3) Mendorong aspirasi
4) Membantu membentuk koping
Menurut Fitria (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi proses terjadinya harga diri rendah yaitu faktor predisposisi dan faktor presipitasi.

Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah adalah penolakan orang tua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain ideal diri yang tidak realistis.

Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah biasanya adalah hilannya sebagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk tubuh, mengalami kegagalan serta menurunya produktivitas. Sementara menurut Purba, dkk (2008) gangguan harga diri rendah dapat terjadi secara situasional dan kronik. Gangguan harga diri yang terjadi secara situasional bisa disebabkan oleh trauma yang muncul secara tiba-tiba misalnya harus dioperasi, mengalami kecelakaan, menjadi korban perkosaan, atau menjadi narapidana sehingga harus masuk penjara. Selain itu, dirawat di rumah sakit juga merupakan trauma yang muncul tiba-tiba dan dapat menyebabkan gangguan harga diri situasional.
Sedangkan gangguan harga diri kronik biasanya sudah berlangsung sejak lama yang dirasakan klien sebelum sakit atau sebelum dirawat dan menjadi semakin meningkat saat dirawat. Menurut Peplau dan Sulivan dalam Yosep (2009) mengatakan bahwa harga diri berkaitan dengan pengalaman interpersonal, dalam tahap perkembangan dari bayi sampai lanjut usia seperti good me, bad me, not me, anak sering dipersalahkan, ditekan sehingga perasaan amannya tidak terpenuhi dan merasa ditolak oleh lingkungan dan apabila koping yang digunakan tidak efektif akan menimbulkan harga diri rendah. Menurut Caplan, lingkungan sosial akan mempengaruhi individu, pengalaman seseorang dan adanya perubahan sosial seperti perasaan dikucilkan, ditolak oleh lingkungan sosial, tidak dihargai akan menyebabkan stress dan menimbulkan penyimpangan perilaku akibat harga diri rendah. Caplan (dalam Keliat 1999) mengatakan bahwa lingkungan sosial, pengalaman individu dan adanya perubahan sosial seperti perasaan dikucilkan, ditolak oleh lingkungan sosial, tidak dihargai akan menyebabkan stress dan menimbulkan penyimpangan perilaku akibat harga diri rendah.

Tanda dan Gejala
Empat gejala yang menunjukkan masalah harga diri rendah:
a. Fisik
Tanda dan gejala dari respon fisiologi terhadap penurunan harga diri antara lain penurunan energi, lemah, agitasi, penurunan libido, insomnia atau hipersomnia, penurunan atau peningkatan nafsu makan, anoreksi dan sakit kepala (Westermeyer, 2006; Stuart & sundeen, 1998).
b. Kognitif
Kognitif yang muncul pada klien dengan masalah harga diri rendah menurut Struart & Laraia (2005) dan boyd & Nihart (1998) adalah:
1) Bingung
Kebingungan adalah kumpulan perilaku termasuk tidak adanya perhatian dan pelupa, perubahan perilaku seperti agresif, bimbang, delusi (efek dari perilaku) dan ketidakmampuan atau kegagalan dalam kegiatan sehari-hari (Mehta, Yaffe and Covinsky, 2002 dalam Stuart & Laraia, 2005).
2) Kurangnya memori jangka waktu pendek dan panjang
Memori meliputi kemampuan untuk mengingat atau meniru terhadap pelajaran atau pengalaman. kerusakan emmori menurut Mohr (2006) adalah ketidakmampuan untuk mempelajari informasi baru (memori jangka pendek) dan ketidakmampuan mengingat informasi yang sudah lama (memori jangka panjang). Gangguan memori berhubungan dengan kerusakan sosial atau fungsi pekerjaan dan kemunduran diri dari fungsi sebelumnya.
3) Kurangnya perhatian
Kekacauan perhatian menurut Stuart & Laraia (2005) adalah kerusakan dalam kemampuan untuk menunjukkan perhatian, mengamati, memfokuskan dan konsentrasi terhadap realita ekstrernal.
4) Merasa putus asa
5) Merasa tidak berdaya
6) Merasa tidak berguna / berharga
c. Perilaku
Dalam mengubah perilaku klien, dapat dilakukan dengan 3 strategi (WHO, dalam Notoatmodjo, 2003) yaitu menggunakan kekuatan atau kekuasaan atau dorongan, pemberian informasi serta diskusi partisipan. Pada klien dengan harga diri rendah perilaku maladaptif yang ditampilkan antara lain:
1) Kurangnya aktivitas dan menurunnya aktivitas yang menyenangkan
2) Menarik diri
3) Kurang sosialisasi atau keterampilan bersosialisasi
4) Mencederai diri atau resiko bunuh diri
d. Afek

Keliat (2009) mengemukakan beberapa tanda dan gejala harga diri rendah adalah:
1) Mengkritik diri sendiri.
2) Perasaan tidak mampu.
3) Pandangan hidup yang pesimis.
4) Penurunan produkrivitas.
5) Penolakan terhadap kemampuan diri.
Selain tanda dan gejala tersebut, penampilan seseorang dengan harga diri rendah juga tampak kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian tidak rapi, selera makan menurun,tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk, dan bicara lambat dengan nada suara lemah.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :