RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

Menarik Diri

Konsep Isolasi Sosial : Menarik Diri
Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Purba, dkk. 2008).
Isolasi sosial adalah gangguan dalam berhubungan yang merupakan mekanisme individu terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan cara menghindari interaksi dengan orang lain dan lingkungan. (Dalami dkk, 2009)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa menarik diri merupakan gangguan hubungan sosial, dimana individu mengalami kesulitan dalam membina hubungan dengan orang lain atau dengan keadaan ketika individu mengalami atau beresiko mengalami respon interaksi yang negatif yang menunjukkan ketidakmampuan untuk menerima atau mengkomunikasikan rasa kepuasan, rasa memiliki, menyayangi, ketertarikan, dan gejala lain yang menyertai seperti : avolition (menurunnya minat dan dorongan untuk melakukan berbagai hal), berkurangnya keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan, afek yang datar, serta terganggunya relasi personal sehingga menimbulkan tingkah laku maladatif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan sosial.

Rentang Respon Sosial
Manusia adalah mahluk sosial, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan maka mereka harus membina hubungan interpersonal yang positif. Hubungan interpersonal yang sehat terjadi jika individu yang terlibat saling merasakan kedekatan sementara identitas pribadi tetap dipertahankan. Individu juga harus membina hubungan saling tergantung, yang merupakan keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam suatu hubungan ( Stuart, 2006 ).
Menurut Stuart (2006) respons sosial individu berada pada rentang adatif sampai maladatif.

RENTANG RESPON SOSIAL
Respons adatif Respons Maladatif
Menyendiri (solitude) Kesepian Manipulasi
Otonomi Menarik diri Impulsif
Kebersamaan Ketergantungan Narkisisme
Saling ketergantungan
Sumber : Stuart, G.W. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa ( Edisi 5.).Jakarta :EGC

1. Rentang respon adaptif
Rentang respon adaptif merupakan respon individu dalam penyesuaian masalah yang dapat di terima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan.
1) Menyendiri (solitude) merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya.
2) Otonomi merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
3) Bekerjasama (mutualisme) adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.
4) Saling tergantung (interdependen) adalah suatu kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
2. Respon antara adaptif dan maladaptive
1) Aloness (Kesepian)
individu mulai merasakan kesepian, terkucilkan dan tersisihkandari lingkungan.
2) Withdrawl (Menarik diri)
Gangguan yang terjadi di mana seseorang menemukan kesulitan dalammembina hubungan saling terbuka dengan orang lain, di mana individu sengaja menghindarai hubungan interpersonal ataupun interaksi dengan lingkungannya.
3) Dependence ( ketergantungan )
Individu mulai tergantung kepada individu yang lain dan mulai tidak memperhatikan kemampuan yang di milikinya.
3. Respon maladaptif
Respon maladaptif merupakan suatu respon individu dalam penyelesaian masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya lingkungannya.
Respon maladaptif :
1) Loneliness ( kesepian )
Gangguan yang terjadi apabila seseorang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan orang lain.
2) Manipulasi
Pada gangguan hubungan sosial jenis ini orang lain diperlakukan sebagai objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain dan individu cendrung berorientasi pada diri sendiri atau tujuan, bukan padaorang lain.
3) Implusif
Individu implusif tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman, tidak dapat di andalkan.
4) Narkisisme
Pada pasien narkisme terdapat harga diri yang rapuh, secara terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap egosentris, pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung.
5) Paranoid ( curiga )
Gangguan yang terjadi apabila seseorang gagal dalam mengembangkanrasa percaya diri pada orang lain.

Etiologi
1. Faktor Presdiposisi
1) Faktor Biologis
Faktor keturunan dan struktur otak yang abnormal seperti atropi otak, menurunya berat otak secara drastis, perubahan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbik dan daerah kortikal biasanya ditemukan pada klien Skizofrenia (Keliat, 2006).
2) Faktor Perkembangan
Kapasitas hubungan interpersonal berkembang sepanjang siklus kehidupan. Tiap gangguan dalam pencapaian perkembangan pada masing tingkat pertumbuhan akan dapat mempengaruhi respon sosial baik adaptif maupun maladaptif pada individu (Stuart, 2006 ).
3) Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial dapat terjadi karena dampak mengadopsi norma, prilaku, dan sistem nilai yang berbeda dari yang dimiliki budaya mayoritas. Harapan yang tidak realistis terhadap hubungan tersebut dapat merupakan faktor lain yang menyebabkan respon sosial yang maladptif (Stuart, 2006).
2. Faktor Presipitasi
1) Stressor Psikologi
Tingkat kecemasan yang berat akan menyebabkan menurunya kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain . intensitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai terbatasanya kemampuan untuk mengatasi masalah diyakini akan menimbulkan berbagai masalah gangguan berhubungan menarik diri (Keliat, 2006)
2) Stressor Sosial Kultural
Stress yang ditimbulkan oleh menurunya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari orang yang berarti, seperti kondisi yang menyebabkan angota keluarga dirawat dirumah sakit (Stuart, 2006).

Tanda dan Gejala
Menurut Keliat (2006), tanda dan gejala ditemui pada klien menarik diri seperti:
1. Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.
2. Menghindar dari orang lain (menyendiri).
3. Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/perawat.
4. Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk.
5. Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas.
6. Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
7. Tidak melakukan kegiatan sehari-hari.
Observasi yang dilakukan pada klien dengan isolasi sosial:menarik diri akan ditemukan data objektif meliputi apatis (acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih), afek tumpul, tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri, komunikasi verbal menurun atau tidak ada. Klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat, menyendiri. Klien terlihat memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan, tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya, pemasukan makanan dan minuman terganggu, retensi urine dan feces, aktivitas menurun, kurang energy, harga diri rendah, menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. (Fitria, 2009).

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :