RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

Halusinasi

Konsep Dasar Halusinasi
Pengertian Halusinasi
Perubahan persepsi sensori adalah keadaan dimana individu/ kelompok mengalami atau resiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah, pola, atau intepretasi stimulus yang datang (Carpenito, 2000). Menurut Keliat, dkk (2009) Halusinasi adalah suatu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi : merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghidupan. Klien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak terjadi.
Tipe halusinasi yang paling sering adalah halusinasi pendengaran (Auditory-hearing voices or sounds), penglihatan (Visual-seeing persons or things), penciuman (Olfactory-smelling odors), pengecapan (Gustatory-experiencing taste) (Varcarolis, dalam Yosep 2007). Keliat (2006) menyebutkan halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau bunyi tersebut.


Dimensi Halusinasi
Respon Klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi (Stuart dan Laraia,2005) yaitu :
1. Dimensi Fisik
Manusia dibangun oleh sistem indra untuk menanggapi ransang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obtan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol, dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.
2. Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat di atasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.
3. Dimensi Intelektual
Dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan hal yang menimbulkan kewaspadaan yangdapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua perilaku klien.
4. Dimensi Sosial
Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri, dan harga diri yang didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem kontrol oleh individu tersebut sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, maka individu tersebut bisa membahayakan orang lain. Oleh karena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusahakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkunganya dan halusinasi tidak berlangsung
5. Dimensi Spiritual
Manusia diciptakan tuhan sebagai mahluk sosial sehingga interaksi dengan manusia lainya merupakan kebbutuhan yang mendasar. Individu yang mengalami halusinasi cenderung menyendiri sehingga proses diatas tidak terjadi, individu tidak sadar dengan keberadaanya sehingga halusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya, individu kehilangan kontrol kehidupan dirinya (Stuart dan Laraia, 2005)

Etiologi Halusinasi
Adapun faktor penyebab halusinasi dapat dibedakan menjadi dua menurut (Yusuf, Fitryasari, & Nihayati, 2015), yaitu:
1. Faktor Predisposisi
1) Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal yang dapat meningkatkan stres dan ansietas yang dapat berakhir dengan gangguan persepsi. Klien mungkin menekan perasaanya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.
2) Faktor Sosiokultural
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang merasa disingkirkan atau kesepian, selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi
3) Faktor psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis, serta peran ganda atau peran yang bertentangan dapat menimbulkan ansietas berat terakhir dengan peningkatan terhadap kenyataan, sehingga terjadi halusinasi.
4) Faktor Biologis
Struktur otak yang abnormal ditemukan pada klien gangguan orientasi realitas, serta dapat ditemukan atropik otak, pembesaran ventrikel, perubahan besar, serta bentuk sel kortikal dan limbik
2. Faktor Presipitasi
1) Perilaku
Perilaku yang perlu dikaji pada klien dengan orientasi realitas berkaitan dengan perubahan proses pikir, afektif persepsi, motorik, dan sosial.
2) Stresor sosial budaya
Stres dan kecemasan akan meningkat bila terjadi penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang penting, atau diasingkan dari kelompok dapat menimbulkan halusinasi.
3) Faktor Biokimia
Berbagai penelitian tentang dopamin, norepinetrin, indolamin, serta zat halusigenik diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi.
4) Faktor Psikologis
Intensitas kecemasan yang ekstrem dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah memungkinkan berkembangnya gangguan orientasi realitas. Klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan.
Penyebab halusinasi secara spesifik belum diketahui, namun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya halusinasi menurut Stuart & Laraia (2005) adalah faktor biologis, sosial budaya, dan lingkungan. Faktor – faktor tersebut dapat mengakibatkan munculnya stressor pada individu, stressor yang banyak dan bertumpuk tidak mampu individu selesaikan inilah yang disebut dengan koping individu inefektif. Kondisi ini dapat mengakibatkan terganggunya konsep diri. Konsep diri yang terus - menerus terganggu mengakibatkan harga diri rendah dimana individu mengalami kritik diri secara berlebihan, untuk menghadapi dirinya terhadap kritik diri tersebut maka individu lebih senang menyendiri, menghindari interaksi dengan orang lain. Pada kondisi ini terjadi ketidakseimbangan antara dopamine dan neurotransmitter yang berlebihan memicu zat halusinogenik sehingga memunculkan imajinasi – imajinasi yang halusinasi. Kondisi halusinasi ini pada awalnya menyenangkan, tapi dapat berlanjut ke fase IV yaitu dapat berubah menjadi mengancam, menyuruh untuk memukul, kondisi ini mengakibatkan resiko mencederai diri sendiri, lingkungan dan orang lain. Karena halusinasi yang sudah sangat mempengaruhi klien, membuat klien tidak dapat memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan memungkinkan terjadinya perubahan nutrisi, defisit perawatan diri.

Tanda dan Gejala Halusinasi
1. Fisik
Gejala fisik seperti muka merah, pernapasan dan nadi meningkat, sulit tidur juga sering ditemukan pada klien halusinasi. Towsend (1995) menambahkan dengan ekspresi wajah tampak tegang dan berkeringat.
2. Emosional
Towsend (1995) menyatakan secara emosional maka gejala halusinasi berupa merasa ketakutan, mudah tersinggung, jengkel, merasa curiga, dan mudah marah. Gejala yang tampak secara umum pada klien perilaku kekerasan dan halusinasi tidak jauh berbeda, dimana klien sama-sama mengalami perubahan mood yang cepat dan mudah tersinggung, cepat jengkel dan marah ketika medapatkan stimulus yang tidak menyenangkan.
3. Kognitif
Klien dengan halusinasi juga mengalami penurunan kemampuan secara kognitif dalam membedakan rangsangan yang diterima. Gejala yang tampak berupa pembicaraan kacau dan tidak masuk akal, tidak mampu membedakan yang nyata dengan yang tidak nyata (Towsend,1995)
4. Sosial
Gejala yang tampak pada klien halusinasi meliputi : sikap curiga dan bermusuhan sehingga lama kelamaan klien akan menarik diri dari orang lain (Towsend, 1995). Gejala ini jika dibiarkan akan membuat klien asyik dengan dirinya sendiri menyebabkan halusinasi akan semakin parah, sehingga tidak menutup kemungkinan jika dalam kondisi ini klien merasa terganggu dengan kehadiran seseorang maka ia akan melakukan tindakan agresif.
5. Perilaku
Klien dengan halusinasi akan mnunjukkan perilaku berupa : berbicara, senyum dan tertawa sendiri, mengatakan mendengar suara, melihat, menghirup, mengecap dan merasa sesuatu yang tidak nyata, merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan, serta tidak melakukan perawatan diri seperti mandi, sikat gigi, ganti pakaian (Towsend, 1995). Klien juga tidak mampu mempertahankan kontak mata, menyeringai atau tertawa tanpa sebab yang jelas, gerakan mata seolah-olah sedang melihat atau mendengar seseorang sedang bicara (Stuart & Fontaine, 2009). Respon perilaku yang tampak pada klien halusinasi memerlukan penanganan yang tepat karena jika dibiarkan akan berisiko terjadinya perilaku kekerasan yang dapat ditujukan baik pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

Jenis-jenis Halusinasi
Stuart dan Laraia (2005) membagi halusinasi menjadi 7 jenis halusinasi yang meliputi: halusinasi pendengaran (auditory), halusinasi pengecapan (gustatory), halusinasi penglihatan (visual), halusinasi penghidu (olfactory), halusinasi perabaan (tactile), halusinasi cenesthetic, dan halusinasi Kinesthetic. Karakteristik halusinasi antara lain :
1. Pendengaran
Mendengar suara – suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai percakapan lengkap antara dua orang atau lebih. Pikiran yang didengar klien dimana klien disuruh untuk melakukan sesuatu yang kadang-kadang membahayakan.
2. Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambaran geometris, gambaran kartun, bayangan yang rumit dan kompleks. Bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.
3. Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin atau feces, umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang dan dimensia.
4. Pengecapan
Pada halusinasi pengecapan klien merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin, atau feses.
5. Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa kesetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
6. Cenesthetic
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah dari vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.
7. Kinesthetic
Klien yang mengalami halusinasi Kinesthetic merasakan pergerakan saat berdiri tanpa bergerak.

Rentang Respon Halusinasi
Halusinasi merupakan salah satu respon mal adaptif individu yang berada dalam rentan respon neurobiologist (Stuart dan Laraia,2005). Ini merupakan respon persepsi paling maladaptif. Klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus pancaindra walaupun sebenarnya stimulus tersebut tidak ada. Respon individu (yang karena suatu hal mengalami kelainan persepsi) yaitu salah mempersepsikan stimulus yang diterimanya yang disebut sebagai ilusi. Rentang respon dapat digambarkan seperti berikut.
Respon adaptif Respon maladaptif
Bagan 2.1 Rentang respon neurobiologis (Stuart & Gail, 2006)
- Pikiran logis
- Persepsi akurat
- Emosi konsisten dengan pengalaman
- Perilaku sesuai
- Hubungan sosial harmonis
- Perilaku menyimpang
- Ilusi
- Reaksi emosional berlebihan atau kurang
- Perilaku ganjil atau tidak lazim
- Menarik diri
- Kelainan pikiran
- Halusinasi
- Ketidakmamuan mengalami untuk emosi
- Ketidakteraturan
- Isolasi sosial

1. Respon adaptif
1) Pikiran logis : Ide yang berjalan secara logis dan koheren
2) Persepsi akurat : Proses diterimanya rangsang melalui panca indera
yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga
individu sadar tentang sesuatu yang ada didalam
maupun diluar dirinya.
3) Emosi Konsisten : Manifestasi perasaan yang konsisten atau efek
keluar disertai banyak komponen fisiologik dan
biasanya berlangsung tidak lama.
4) Perilaku sesuai : Perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh
norma – norma sosial dan budaya umum yang
berlaku.
5) Hubungan harmonis : Hubungan yang dinamis menyangkut hubungan
antar individu, individu dan kelompok, dalam
bentuk kerjasama.
2. Respon Psikososial meliputi :
1) Perilaku menyimpang : perilaku yang menimbulkan gangguan.
2) Ilusi : Persepsi atau pengamatan yang menyimpang.
3) Reaksi Emosi berlebihan : Manifestasi perasaan atau efek keluar berlebihan atau kurang.
4) Perilaku ganjil : Perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma – norma sosial atau budaya umum yang berlaku.
5) Menarik diri : percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.
3. Respon maladaptif
1) Kelainan pikiran : keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial.
2) Halusinasi : Keadaan dimana individu mengalami perubahan sensori atau kesan yang salah terhadap stimulus baik secara internal maupun eksternal
3) Ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi : Manifestasi dari persepsi impuls eksternal menyimpang alat indra yang memproduksi gambaran sensorik pada area tertentu ditolak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah dialami sebelumnya.
4) Ketidakteraturan perilaku : merupakan suatu perilaku yang tidak teratur.
5) Isolasi sosial : Percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :