RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

Stigma Karena Asosiasi/Hubungan

Stigma Karena Asosiasi/Hubungan  

      Stigma keluarga merupakan sikap keluarga dan masyarakat yang menganggap bahwa bila salah seorang anggota keluarga menderita skizofrenia merupakan aib bagi anggota keluarganya (Hawari, 2009). Sedangkan menurut Larson & Corrigan (2008) stigma keluarga adalah sebuah kasus stigma khusus yang dialami oleh individu sebagai konsekuensi akibat kaitannya dengan anggota keluarga yang mengalami stigma. Menurut Park & Park (2014) stigma keluarga dibentuk dari orang lain atau masyarakat memiliki persepsi negatif, sikap, emosi dan penghindaran dari masyarakat ke keluarga akibat ketidakbiasaan keluarga (memiliki anggota keluarga yang sakit) sehingga menimbulkan konsekuensi emosional, sosial, dan interpersonal yang dapat menurunkan kualitas hidup keluarga

       Stigma keluarga yang terkait dengan gangguan jiwa digambarkan oleh Larson & Corrigan (2008):

1. Stereotype Blame (Menyalahkan): Keluarga dengan anggota yang memiliki gangguan jiwa bisa mengalami malu karena orang lain mungkin menyalahkan mereka entah bagaimana bertanggung jawab atas gangguan tersebut.

2. Shame (Malu): Pada gilirannya, anggota keluarga mengalami rasa malu untuk disalahkan untuk penyakit gangguan jiwa. Malu ini dapat menyebabkan anggota keluarga menghindari kontak dengan tetangga dan teman-teman.

3. Contamination (Kontaminasi): Kontaminasi menjelaskan seberapa dekat hubungan dengan orang terkena stigma mungkin menyebabkan berkurangnya dengan mengurangi nilai stigma tersebut. Stigma keluarga berdampak negatif terhadap individu dalam berbagai cara. Anggota keluarga dapat menghindari situasi sosial, dan dapat menghabiskan energi dengan menyembunyikan rahasia, dan mengalami diskriminasi dalam pekerjaan atau dalam situasi rumah tangga (Larson & Corrigen, 2008).

 

       Dalam stigma keluarga terdapat tiga konsep diantaranya menurut Park & Park, 2014:

1. Antecendents: Walker & Avant (2005), mendefinisikan antecendents adalah faktor peristiwa-peristiwa atau insiden yang harus terjadi sebelum terjadinya konsep. Dalam hal stigma keluarga, beberapa antecendents dapat ditampilkan yang mengarah ke terjadinya fenomena tersebut:

a. The overall unusualness of the family: Salah satu contoh fenomena ini adalah terjadinya kejadian negatif dalam keluarga. Secara khusus, ini mengacu pada terjadinya riwayat atau situasi negatif, peristiwa, kejadian, masalah, atau penyakit dalam satu keluarga, yang mempengaruhi baik seluruh keluarga atau satu anggota. Hal ini dapat termasuk yang terlibat dalam tindakan kejahatan atau memiliki anggota keluarga yang sakit. Jika penyakit memerlukan beban pengasuh tinggi, hal ini dapat terjadi dengan tak terduga, masalah perilaku kronis atau konflik dengan tetangga, maka yg bisa kuat dan akan lebih mungkin menyebabkan keluarga yang mendapatkan stigma (Lefley, 1989).

b. Kebiasaan tidak wajar yang memiliki karakteristik atau terstruktur dalam keluarga: Salah satu yang nyata berbeda dari norma masyarakat pada umumnya. Keluarga dengan orang tua yang homoseksual, keluarga orang tua tunggal, keluarga minoritas, atau keluarga yang tergabung dalam pseudo-religions adalah contoh dari unit keluarga unordinary.

c. Tersebar luasnya informasi tentang keluarga: Dengan kata lain, orang-orang di lingkungan sekitar atau kota mengetahui aspek negatif keluarga, seperti kejadian negatif yang mereka masuk di dalamnya, penyakit dari anggota keluarga, atau karakteristik dari biasa atau struktur keluarga.

2. Attributes: Tiga atribut kunci definisi stigma keluarga yang diidentifikasi:

a. Orang lain memiliki persepsi negatif, sikap, emosi, dan menghindari sikap ke keluarga (dan setiap anggota keluarga), karena unusualness family, termasuk situasi negatif, kejadian, perilaku, masalah atau penyakit terkait dengan keluarga, atau karena tidak biasa dalam karakteristik atau struktur keluarga (Corrigan et al., 2006; Larson & Corrigan, 2008; Phelan, Bromet, & Link, 1998; van Dam, 2004; . Werner et al, 2011);

b. Orang lain percaya bahwa unusualness family dapat merugikan, membahayakan, tidak sehat, mampu mempengaruhi pandangan negatif ke mereka, atau berbeda dari norma-norma sosial pada umumnya (Brickley et al, 2009; Hinshaw, 2005; Pirutinsky, Rosen, Shapiro Safran, & Rosmarin, 2010); dan

c. Orang lain percaya bahwa anggota keluarga secara langsung atau tidak langsung terkontaminasi oleh anggota keluarga yang bermasalah, sehingga setiap anggota keluarga juga dianggap merugikan, berbahaya, tidak sehat, mampu mempengaruhi efek negatif pada orang lain, atau berbeda dari norma-norma sosial pada umumnya (Corrigan, et al.; Larson & Corrigan; Van Dam; Waller, 2010).

3. Consequences: Walker dan Avant (2005) mendefinisikan konsekuensi dari konsep sebagai hasil dari terjadinya konsep. Konsekuensi emosional dari keluarga yang mengalami stigma biasanya memiliki perasaan mengabaikan dan tidak hormat. Terkait hal itu, merasa malu, ketakutan, kecemasan, rasa putus asa, rasa bersalah, khawatir, dan perhatian yang berlebihan (Brickley et al, 2009;. Dalky, 2012; Larson & Corrigan, 2008; Mwinituo & Mill, 2006; van Dam, 2004; Werner et al, 2010.; Wong et al., 2009). Selain itu, secara sosial, keluarga bisa merasakan diskriminasi, seperti kehilangan pekerjaan atau tempat tinggal, memiliki reputasi yang buruk, beban keluarga dan sebagainya (Larson & Corrigan; Lefley, 1989; Pirutinsky et al, 2010). Karena itu, keluarga mungkin menghindari hubungan sosial, menghabiskan energi untuk menyembunyikan rahasia keluarga, atau pindah ke daerah lain, dan bisa menyebabkan isolasi sosial pada keluarga (Corrigan et al, 2006;. Mwinituo & Mill, 2006). Akhirnya, keluarga tidak mendapatkan bantuan yang konsisten atau dukungan, dan dengan demikian, kualitas hidup mereka akan menurun.

 

penelitian tentang stigma asosiasioleh penulis dan tim halaman blogroll : google scholar penulis

Daftar Pustaka

Corrigan, P. W., Watson, A. C., & Millier, F. E. 2006. Blame, Shame and Contamination: The Impact of Mental Illness and Drug Dependence Stigma on Family Members. Journal of family Psychology. 20 (2), 239-246.

Hawari, D. 2009. Peran Keluarga Dalam Gangguan Jiwa. Edisi 21, Jurnal Psikologi, Rumah Sakit Jiwa. Provinsi Jawa Barat, Bandung.

Hinshaw, S. P. 2005. The Stigmatization of Mental Illness in Children and Parents: Developmental Issues, Family Concerns, And Research Needs. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 46(7).

Larson, J.E & Corrigan, P. 2008. The Stigma of Families with Mental Illness. Academy Psychiatry. Proquest.

Lefley, H. P. 1989. Family Burden and Family Stigma in Major Mental Illness. The American psychologists, 44 (3), 556-560.

Park, S. & Park, K. S. 2014. Family Stigma: A Concept Analysis. Vol. 8, issue 3.

Pirutinsky, S., Rosen, D., Shaphiro, S. R., & Rosmarin, D. H. 2010. Do Medical Models of Mental Illness relate to Increase or Decreased Stigmatization of Mental Illness among Orthodox Jews? The Journal of Nervous and Mental Illness Disease, 198 (7).

Walker, L. O., & Avant, K. C. 2005. Strategies for Theory Construction in Nursing (4th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson Education.

Werner, P., Goldstein, D., & Heinik, J. 2011. Development and Validaty of the Family Stigma in Alzheimers Disease Scale (FS-ADS). Alzheimer Disease and Associated Disorders, 25 (1), 42-48.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :