RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

STIGMA

Stigma
Pengertian stigma
Kata “stigma” berasal dari bahasa Inggris yang artinya noda atau cacat. stigma adalah "sebuah aib atau ketidaksetujuan masyarakat dengan sesuatu, seperti tindakan atau kondisi" (The American Heritage Dictionary, 2012). Menurut Thesaurus, sinonim dari stigma adalah brand, tanda, dan noda. Kata brand didefinisikan sebagai nama yang diberikan untuk produk atau layanan, tanda adalah yang membedakan simbol, sedangkan noda didefinisikan sebagai simbol aib keburukan (Thesaurus, 2006).
Jones (1984 dalam Koesomo, 2009) menyatakan bahwa stigma adalah penilaian masyarakat terhadap perilaku atau karakter yang tidak sewajarnya. Stigma adalah fenomena sangat kuat yang terjadi di masyarakat, dan terkait erat dengan nilai yang ditempatkan pada beragam identitas sosial (Heatherton, et al, 2003). Menurut Chaplin (2004), stigma adalah suatu cacatan atau cela pada karakter seseorang. Sedangkan, Goffman (1963) menyatakan “stigma as a sign or a mark that designates the bearer as “spoiled” and therefore as valued less than normal people”. Stigma adalah tanda atau ciri yang menandakan pemiliknya membawa sesuatu yang buruk dan oleh karena itu dinilai lebih rendah dibandingkan dengan orang normal (Heatherton, et al, 2003).
Hasil studi yang dilakukan Goffman mendapatkan suatu simpulan bahwa seseorang yang dikenai stigma diperlakukan berbeda dengan orang lain. Hal ini merupakan bentuk diskriminasi yang membuat orang yang dikenai stigma kehilangan beberapa kesempatan penting dalam hidupnya, sehingga pada akhirnya tidak leluasa untuk berkembang (Hinshaw, 2007).
Menurut Hawari (2001), dalam kaitannya dengan gangguan jiwa skizofrenia, stigma adalah sikap keluarga dan masyarakat yang menganggap bahwa jika ada salah satu anggota keluarga yang menjadi penderita skizofrenia, hal itu merupakan aib bagi keluarga. Stigma merupakan hambatan yang dapat mencegah pasien gangguan jiwa untuk mendapatkan perawatan dan kepedulian yang tepat (Cooper, Corrigan, & Watson, 2003).

Penyebab stigma
Butt, et al (2010), menekankan bagaimana stigma terjadi di berbagai tingkat. Terdapat 4 tingkat utama dimana stigma dapat terjadi:
1. Diri: berbagai mekanisme internal yang dibuat diri sendiri, yang kita sebut stigmatisasi diri
2. Masyarakat: gosip, pelanggaran, dan pengasingan di tingkat budaya dan masyarakat
3. Lembaga: perlakuan preferensial atau diskriminasi dalam lembaga
4. Struktur: lembaga-lembaga yang lebih luas seperti kemiskinan, rasisme, serta kolonialisme yang terus menerus mendiskriminasi suatu kelompok tertentu.

Proses terjadinya stigma
     Menurut Pfuhl (dalam Simanjutak, 2005) proses pemberian stigma yang dilakukan masyarakat terjadi melalui tiga tahapan, yaitu:
1. Proses interpretasi: pelanggaran norma yang terjadi dalam masyarakat tidak semuanya mendapatkan stigma dari masyarakat, tetapi hanya pelanggaran norma yang diinterpretasikan oleh masyarakat sebagai suatu penyimpangan perilaku yang dapat menimbulkan stigma
2. Proses pendefinisian orang yang dianggap berperilaku menyimpang, setelah pada tahap pertama dilakukan, dimana terjadi interpretasi terhadap perilaku yang menyimpang, maka tahap selanjutnya adalah proses pendefinisian orang yang dianggap berperilaku menyimpang oleh masyarakat
3. Perilaku diskriminasi, tahap selanjutnya setelah proses kedua dilakukan, maka masyarakat memberikan perlakuan yang bersifat membedakan (diskriminasi)


     Proses stigma menurut International Federation–Anti Leprocy Association (ILEP, 2011): Orang-orang yang dianggap berbeda sering diberi label, masyarakat cenderung berprasangka dengan pandangan tertentu dengan apa yang orang alami seperti sangat menular, mengutuk, berdosa, berbahaya, tidak dapat diandalkan dan tidak mampu mengambil keputusan dalam kasus mental. Masyarakat tidak lagi melihat penderita yang sebenarnya tetapi hanya melihat label saja, kemudian memisahkan diri dengan penderita dengan menggunakan istilah “kita” dan “mereka” sehingga menyebabkan penderita terstigmatisasi dan mengalami diskriminasi.

Komponen stigma
Menurut Link dan Phelan (dalam Scheid & Brown, 2010) stigma mengacu pada pemikiran Goffman, komponen-komponen dari stigma sebagai berikut:
1. Labelling: Labelling adalah pembedaan dan pemberian label atau penamaan berdasarkan perbedaan yang dimiliki anggota masyarakat tersebut (Link & Phelan dalam Scheid & Brown, 2010). Sebagian besar perbedaan individu tidak dianggap relevan secara sosial, namun beberapa perbedaan yang diberikan dapat menonjol secara sosial. Pemilihan karakteristik yang menonjol dan penciptaan label bagi individu atau kelompok merupakan sebuah prestasi sosial yang perlu dipahami sebagai komponen penting dari stigma. Berdasarkan pemaparan di atas, labelling adalah penamaan berdasarkan perbedaan yang dimiliki kelompok tertentu.
2. Stereotype: Stereotype adalah kerangka berpikir atau aspek kognitif yang terdiri dari pengetahuan dan keyakinan tentang kelompok sosial tertentu (Judd, Ryan & Parke dalam Baron & Byrne, 2003). Menurut Rahman (2013) stereotip merupakan keyakinan mengenai karakteristik tertentu dari anggota kelompok tertentu. Stereotype adalah komponen kognitif yang merupakan keyakinan tentang atribut personal yang dimiliki oleh orang-orang dalam suatu kelompok tertentu atau kategori sosial tertentu (Taylor, Peplau, & Sears, 2009).
3. Separation: Separation adalah pemisahan “kita” (sebagai pihak yang tidak memiliki stigma atau pemberi stigma) dengan “mereka” (kelompok yang mendapatkan stigma). Hubungan label dengan atribut negatif akan menjadi suatu pembenaran ketika individu yang dilabel percaya bahwa dirinya memang berbeda sehingga hal tersebut dapat dikatakan bahwa proses pemberian stereotip berhasil (Link & Phelan dalam Scheid & Brown, 2010). Berdasarkan pemaparan diatas, separation artinya pemisahan yang dilakukan antara kelompok yang mendapatkan stigma dengan kelompok yang tidak mendapatkan stigma.
4. Diskriminasi: Diskriminasi adalah perilaku yang merendahkan orang lain karena keanggotaannya dalam suatu kelompok (Rahman, 2013). Menurut Taylor, Peplau, dan Sears (2009) diskriminasi adalah komponen perilaku yang merupakan perilaku negatif terhadap individu karena individu tersebut adalah anggota dari kelompok tertentu.

Jenis stigma
Larson & Corrigan; Werner, Goldstein, & Heinik (2011) menjelaskan tentang tiga jenis stigma:
1. Stigma struktural: Stigma struktural mengacu pada ketidakseimbangan dan ketidakadilan jika dilihat dari lembaga sosial. Misalnya, merujuk ke kualitas rendah perawatan yang diberikan oleh profesional kesehatan menjadi stigma individu atau kelompok.
2. Stigma masyarakat: Stigma masyarakat menggambarkan reaksi atau penilaian negatif dari masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa.
3. Stigma oleh asosiasi: Stigma oleh asosiasi didefinisikan sebagai diskriminasi karena memiliki hubungan dengan seorang individu yang terstigma

Aspek-aspek stigma
Menurut Heatherton, et al (2003) aspek stigma adalah sebagai berikut:
1. Perspektif: Perspektif merupakan pandangan orang dalam menilai orang lain. Misalnya, seseorang yang memberikan stigma pada orang lain. Perspektif yang dimaksudkan dalam stigma berhubungan dengan pemberi stigma (perceiver) dan penerima stigma (target). Seseorang yang memberikan stigma pada orang lain termasuk dalam golongan nonstigmatized atau dalam bahasa sehari-hari disebut dengan orang normal. Seseorang yang memberikan stigma ini melibatkan aktivitas persepsi, ingatan atau pengalaman, interpretasi, dan pemberian atribut (Heatherton, et al, 2003). Proses perilaku ini dapat menegaskan dan memperburuk seseorang yang dikenai stigma.
2. Identitas: Aspek stigma yang berikutnya adalah identitas. Identitas ini terdiri dari dua hal, yakni identitas pribadi dan identitas kelompok. Stigma dapat diberikan pada orang yang memiliki ciri-ciri pribadi. Misalnya perbedaan warna kulit, cacat fisik, dan hal lain yang menimbulkan kenegatifan. Hal yang lain adalah identitas kelompok. Seseorang dapat diberi stigma karena dia berada di dalam kelompok yang memiliki ciri khusus dan berbeda dengan kelompok kebanyakan.
3. Reaksi: Aspek reaksi terdiri dari 3 sub aspek yang prosesnya berjalan bersamaan Aspek tersebut yakni aspek kognitif, afektif, dan behavior. Aspek kognitif prosesnya lebih lambat dikarenakan ada pertimbangan dan tujuan yang jelas. Aspek kognitif ini meliputi pengetahuan mengenai tanda-tanda orang yang dikenai stigma. Misalnya, pada orang dengan skizofrenia cenderung dipersepsikan membahayakan, merugikan, sehingga dalam kognisi orang yang memberi stigma penderita skizofrenia harus dihindari. Aspek berikutnya adalah aspek afektif. Sifat dari aspek afektif yakni primitive, spontan, mendasar dan tidak dipelajari. Aspek afektif pada orang yang memberikan stigma ini misalnya adalah perasaan-perasaan tidak suka, merasa terancam, dan jijik. Sehingga pada prakteknya dimungkinkan seseorang yang merasa demikian akan menunjukan perilaku menghindar. Hasil akhir dari kedua proses tersebut adalah aspek behavior. Aspek behavior didasarkan oleh kognitif dan afektif. Pada kenyataanya seseorang yang memiliki pikiran buruk dan perasaan terancam pada orang yang terkena stigma akan menunjukan perilaku penghindaran dan tidak bersedia berinteraksi.

Mekanisme stigma
Mekanisme stigma dikemukakan oleh Major & O’Brien (2004), yakni meliputi:
1. Perilaku stereotype dan diskriminasi
Seseorang yang dikenai stigma pada mulanya mendapatkan perlakuan yang negatif dari lingkunganya. Kemudian berlanjut pada adanya diskriminasi. Diskriminasi ini secara terus menerus dapat menimbulkan stigma.
2. Proses pemenuhan harapan
Menjadi orang yang di stereorype menyebabkan orang tersebut distigma. Sebaiknya tidak terlalu terpengaruh dengan perilaku seterotip atau prasangka yang ditujukan apabila ingin mengembangkan diri.
3. Perilaku stereotype muncul otomatis
Stigma muncul karena ada budaya atau stereotype yang berkembang di dalam masyarakat. Pada umumnya masyarakat mengetahui bahwa objek yang dikenai stigma memiliki hal yang membuat masyarakat enggan untuk menjalin interaksi. Stigma dapat mempengaruhi kelompok lain untuk memberikan stigma.
4. Stigma sebagai ancaman terhadap identitas
Perspektif ini berasumsi bahwa stigma membuat seseorang terancam identitas sosialnya. Orang yang menjadi objek stigma meyakini bahwa prasangka dan stereotype terhadap dirinya itu benar dan merupakan identitas pribadi.

Respons stigma
Respons adalah reaksi, tanggapan atau jawaban atas stimulus yang ada (Purwodarminto, 2006). Respon stigma dapat didefinisikan sebagai reaksi, tanggapan seseorang terhadap stigma yang dialami sebagai stimulus. Stigma yang diartikan sebagai stimulus dapat memberikan respon berbagai macam termasuk respon kehilangan. Respon kehilangan menurut Kuble-Ross terdiri dari menyangkal, marah, menawar, depresi dan menerima.
 
Dampak stigma
        Hasil Penelitian Phulf (dalam Simanjutak; 2005) menemukan ada beberapa dampak atau akibat dari stigma, yaitu:
1.Orang yang terstigma sulit mencari bantuan
2.Stigma membuat semakin sulit memulihkan kehidupan individu yang terstigma, karena stigma dapat menyebabkan erosi kepercayaan diri (self-confidence) individu, sehingga individu menarik diri dari masyarakat
3.Stigma menyebabkan diskriminasi, sehingga individu yang terstigma sulit mendapatkan akomodasi dan pekerjaan
4.Masyarakat bisa lebih kasar dan kurang manusiawi pada individu yang terstigma
5. Keluarga individu yang terstigma menjadi lebih terhina dan terganggu.

Dampak stigma terhadap penderita gangguan jiwa tidak saja pada individu, namun juga bisa berdampak pada keluarga dan masyarakat:
1. Dampak pada individu: Pada individu, stigma berdampak pada individu, seperti: harga diri rendah, penilaian negatif pada diri sendiri (self-stigma), ketakutan, diasingkan, kehilangan kesempatan kerja karena diskriminasi, menambah depresi, dan meningkatnya kekambuhan (Goffmand, 2004). Stigma juga menyebabkan seseorang atau grup tersebut merasa terkucilkan, tidak berguna, terisolasi dari masyarakat luas (Jones et. al, 1984).
2. Dampak stigma pada keluarga: Stigmatisasi juga berdampak terhadap keluarga dalam memberikan asuhan pada klien. Pemberian asuhan dari keluarga umumnya berbentuk dukungan fisik, emosional, finansial dan bantuan yang paling rendah dalam aktifitas sehari-hari. Dampak stigma dapat berupa beban finansial, kekerasan dalam rumah tangga, penurunan kesehatan fisik dan mental pada keluarga pengasuh, aktifitas rutin keluarga terganggu, kekhawatiran menghadapi masa depan, stress, dan merasa tidak dapat menanggulangi masalah (Carol, et al, 2004). Menurut Mohr & Regan (2000), keluarga akan mengalami pengalaman yang penuh stress dengan perasaan berduka dan trauma sehingga membutuhkan perhatian dan dukungan dari tenaga kesehatan yang profesional. Dampak lain dari stigma pada anggota keluarga adalah harus menyesuaikan kebiasaan klien seperti menurunnya motivasi, kesulitan menyelesaikan tugas, menarik diri dari orang lain, ketidakmampuan mengatur keuangan, defisit perawatan diri, makan dan kebiasaan tidur yang kesemuanya dapat menguras konsentrasi dari keluarga (Lee, 2003). Dengan demikian stigma bagi keluarga adalah hal yang menakutkan, merugikan, menurunkan harga diri keluarga, memalukan, sesuatu yang perlu dirahasiakan, tidak rasional, kemarahan, sesuatu yang kotor, keputusasaan dan keadaan tidak berdaya (Gullekson, 1992).
3. Dampak stigma pada masyarakat: Ketika masyarakat meyakini benar terhadap stigma dan itu berlangsung lama, maka akan mempengaruhi konsep diri dalam kelompok atau masyarakat. Masyarakat akan menampilkan perilaku frustasi dan tidak nyaman di masyarakat akibat stigma (Herman & Smith, 1989).

 
Daftar Pustaka
Butt, L, Morin, J., Numbery, G., Peyon, I., Goo, A. 2010. Stigma dan HIV/AIDS di Wilayah Pegunungan Papua. Cultural Antropology. Vol. 20, no. 3. Cipta.
Cooper, A. E., Corrigan, P. W., & Watson, A. C. 2003. Mental Illness Stigma and Care Seeking. Journal of Nervous and Mental Disease. 191 (5).
Goffman E. 1963. Stigma: Notes on the management of spoiled identity. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Heatherton, T.F. Kleck, Hebl, dan Hull. 2003. The Social Psychology of Stigma. New York: The Guilford Press.
Hinshaw, S. P. 2005. The Stigmatization of Mental Illness in Children and Parents: Developmental Issues, Family Concerns, And Research Needs. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 46(7).
Koesomo, R. F. P. 2009. Pengalaman Keluarga dalam Merawat Anak dengan Autisme di Sekolah Kebutuhan Khusus Bangun Bangsa Surabaya. Depok: FIK UI. Tesis
Lee, K. 2003. Mental Health Nursing 5 th ed. Pearson education, inc. BAB 2. h. 54-67.
Simanjutak, W. 2005. Upaya Mengatasi Stigma Masyarakat pada Narapidana. Depok: Fakultas Psikologi UI.
The American Herritage Dictionary of English Language (5th ed.). 2012. Boston, MA: Houghton Mifflin.
 


1. yusuf

pada : 05 March 2017

"Hehe... makasih tulisannya bagus... sangat lengkap... tingkatkan terus upload artikelnya untuk meningkatkan peringkat.

ini saya sengaja komentar disini untuk menambah interaksi antar pengguna blog. Dian juga berkomentarlah di blog ku yaaa.."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :