RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

PERILAKU KEKERASAN

PERILAKU KEKERASAN

Definisi Perilaku Kekerasan  

Kekerasan (violence) merupakan suatu bentuk perilaku agresi (aggresive behavior) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain, termasuk terhadap hewan atau benda-benda (Muhith, 2015). Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain (Yosep, 2010).

Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai orang lain secara fisik maupun psikologis (Direja, 2011). Perilaku kekerasan merupakan salah satu respon marah yang diekspresikan dengan melakukan ancaman, mencederai orang lain, dan atau merusak lingkungan. Respon tersebut biasanya muncul akibat adanya stresor. Respon ini dapat menimbulkan kerugian baik pada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan  (Keliat dkk, 2012).

Joyal (2008) menambahkan bentuk perilaku kekerasan yang dilakukan seseorang dapat berupa kekerasan verbal, kekerasan terhadap diri sendiri, benda dan kekerasan terhadap orang lain. Berdasarkan pernyataan tersebut perilaku kekerasan dapat disimpulkan sebagai bentuk perilaku agresi yang merupakan respon maladaptif dari kemarahan seseorang dengan disertai hilangnya kontrol diri yang berupa kekerasan verbal, kekerasan terhadap diri sendiri, benda dan kekerasan terhadap orang lain.

 

Klasifikasi Perilaku Kekerasan

  1. Irritable agression

Merupakan tindak kekerasan akibat ekspresi perasaan marah. Agresi ini dipicu oleh oleh frustasi dan terjadi karena sirkuit pendek pada proses penerimaan dan memahami informasi dengan intensitas emosional yang tinggi (directed against an available target)

2.  Instrumental agression

Suatu tindak kekerasan yang dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.  Misalnya untuk mencapai tujuan politik tertentu dilakukan tindak kekerasan secara sengaja dan terencana

3.  Mass agression

Suatu tindak agresi yang dilakukan oleh massa sebagai akibat kehilangan individualitas dari masing-masing individu. Pada saat orang berkumpul terdapat kecenderungan berkurangnya individualitas, bila ada ada seseorang yang mempelopori tindak kekerasan maka secara otomatis semua akan ikut melakukan kekerasan yang dapat semakin meninggi karena saling membangkitkan. Pihak yang menginisiasi tindak kekerasan tersebut bisa saja melakukan agresi instrumental (sebagai provokator) maupun agresi permusuhan karena kemarahan tidak terkendali (Keliat, 1996 dalam Muhith, 2015)

 

Rentang Respon

Marah merupakan suatu bentuk komunikasi dan proses penyampaian pesan dari individu (Yosep, 2010). Respon marah seseorang berbeda-beda tergantung dari pengendalian diri masing-masing individu. Perilaku asertif merupakan respon adaptif, sedangkan agresif dan kemarahan merupakan respon maladaptif. Perasaan marah normal bagi setiap individu, namun perilaku yang dimanifestasikan oleh perasaan marah dapat berfluktuasi sepanjang rentang respon adaptif dan maladaptif (Keliat 1996, dalam Muhith, 2015)

 

Gambar 2.1

Rentang Respon Marah

 

Agresif

 

Frustrasi

 

Asertif                                  Pasif                                         Amuk

 

Sumber: Yusuf, 2015

 

Asertif : Respon asertif merupakan respon pengungkapan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang lain, tanpa merendahkan harga diri orang lain (Keliat, 1996 dalam Muhith, 2015). Orang yang asertif mampu melakukan tindakan yang sesuai untuk mencapai tujuan tanpa melanggar hak-hak orang lain. Perilaku asertif merupakan respon marah yang adaptif.

Frustasi : Frustasi adalah respon yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan, tidak realitas/ terhambat (Yusuf, 2015). Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan yang dapat berakibat menimbulkan kemarahan. Frustasi merupakan respon lanjutan dari perilaku asertif dalam rentang respon marah seseorang.

Perilaku pasif/ permisif : Perilaku pasif merupakan respon dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang dialami, sifat tidak berani mengemukakan keinginan dan pendapat sendiri, tidak ingin menjadi konflik karena takut akan tidak disukai atau menyakiti perasaan orang lain (Keliat, 1996 dalam Muhith, 2015). Perilaku ini merupakan respon lanjutan dalam rentang respon marah, individu yang mengalami respon ini tidak mampu mengungkapkan perasaannya dan terlihat menyerah. Salah satu alasan orang melakukan respon pasif karena individu tersebut takut, malas, atau karena tidak mau terjadi konflik (Keliat, 1996 dalam Muhith, 2015).

Agresif : Perilaku agresif merupakan perilaku destruktif yang masih terkontrol (Yusuf, 2015). Perilaku ini memperlihatkan ancaman, kata-kata kasar dan terdapat kontak fisik terhadap orang lain, tetapi masih bisa dikendalikan oleh pelaku. Menurut Yosep (2010), ekspresi perilaku ini terjadi secara fisik, tapi masih terkontrol, mendorong orang lain dengan ancaman.

Amuk : Amuk atau dapat disebut juga perilaku kekerasan adalah perasaan marah dan bermusuhan yang kuat dan hilang kontrol, disertai amuk, merusak lingkungan (Yosep, 2010). Perilaku amuk merupakan bentuk perilaku destruktif yang tidak dapat dikontrol (Yusuf, 2015). Perilaku amuk merupakan rentang yang paling tinggi dalam rentang respon marah, perilaku ini mencederai secara langsung diri sendiri, orang lain dan merusak lingkungan.

 

Proses Terjadinya Perilaku Agresi

Menurut Videbeck (2008), bahwa kemarahan yang diungkapkan secara tidak tepat dapat menimbulkan agresi dan permusuhan. Menurut  Yosep (2010), dikategorikan menjadi dua faktor untuk menjelaskan perilaku kekerasan, yaitu:

1)    Faktor predisposisi perilaku kekerasan

Faktor predisposisi merupakan faktor yang mendasari seseorang untuk cenderung melakukan perilaku agresi. Faktor predisposisi perilaku kekerasan meliputi: faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya (Yosep, 2010).

a.  Faktor biologis: Faktor biologis penyebab perilaku kekerasan merujuk pada keadaan biologis yang mendasari terjadinya perilaku kekerasan dihubungkan dengan adanya gangguan pada struktur otak dan sistem saraf pusat pada otak. Faktor biologis penyebab perilaku kekerasan diantaranya, meliputi sistem limbik, hipotalamus, lobus frontal, dan neurotransmitter (Stuart dan Laraia, 2005).

1)   Sistem limbik: Sistem limbik merupakan bagian otak yang mengatur dorongan dasar, sistem informasi, ekspresi emosi, dan perilaku seperti makan, agresif, dan respon seksual (Yusuf, 2015). Sistem ini meliputi thalamus, hypothalamus, amygdala, dan hypocampus. Setiap stimulus yang diterima oleh panca indera diterima sebagai pesan oleh thalamus, kemudian ditransfer ke hypothalamus dan selanjutnya ke amygdala dan hypocampus untuk dihasilkan respon tindakan. Kondisi panik atau marah menyebabkan pesan stimulus yang diterima oleh thalamus tidak diteruskan ke hypothalamus untuk mengalami pengolahan rasional, sehingga reaksi yang telah mengalami hubungan pendek tersebut (short circuit) akan diolah oleh amygdala sesuai dengan memori emosional yang telah direkam oleh individu tersebut yakni perilaku kekerasan (Muhith, 2015).

2)  Lobus frontal: Lobus frontal merupakan organ yang berfungsi sebagai pemikiran yang logis, serta pengolahan emosi dan alasan berfikir (Yusuf, 2015). Kerusakan (lession) pada lobus ini mengakibatkan gangguan terhadap pembuatan keputusan, perubahan kepribadian, masalah dalam pengambilan keputusan dan luapan agresif, sedangkan stimulasi pada area lobus ini (prefrontal korteks) mencegah marah dan agresi (Stuart dan Laraia, 2005).

3)  Neurotransmitter:Beberapa neurotransmitter yang berpengaruh terhadap respon agresivitas adalah serotonin (5-HT), dopamine, norepineprin, acetylcholine, dan GABA (Gamma Amino-Butyric Acid) (Yusuf, 2015). Rendahnya kadar serotonin dapat meningkatkan iritabilitas, hipersensitifitas terhadap provokasi, dan perilaku amuk (Kneisl, 2004 dalam Putri, 2010). Neurotransmitter merupakan substansi yang mentransmisikan sinyal pesan dari pre sinaps menuju ke post sinaps yang menyebabkan adanya komunikasi antar bagian otak dalam menghasilkan reaksi terhadap stimulus yang diterima otak. Adanya peningkatan atau penurunan substansi ini dapat mengakibatkan perubahan reaksi termasuk perubahan pada perilaku kekerasan (Stuart dan Laraia, 2005).

b.  Faktor psikologis : Berdasarkan teori frustrasi-agresif, perilaku kekerasan merupakan hasil dari peningkatan frustasi atau tidak tercapainya suatu tujuan (Yusuf, 2015). Perilaku agresi merupakan pembelajaran seseorang sejak masa kanak-kanaknya yang kemudian menjadi pola perilaku (learned behavior). Pola respon agresi sesorang memerlukan stimulus (impuls) berupa kondisi sosial lingkungan (faktor psikososial) untuk memunculkan perilaku agresi, namun bentuk stimulus yang sama tidak selalu memunculkan perilaku agresi yang sama pada setiap orang. Pola perilaku agresi dibentuk oleh faktor pengendalian diri individu (internal control) serta berbagai stimulus dari luar (impulses). Saat keseimbangan antara kemampuan pengendalian diri dan besarnya stimulus terganggu, maka akan membangkitkan perilaku agesi (Keliat, 1996 dalam Muhith, 2015).

  1. Faktor sosial budaya: Faktor sosial budaya menurut Yusuf (2015), merupakan faktor kontrol terhadap perilaku kekerasan yang terdiri dari norma dan budaya asertif di masyarakat. Faktor sosiokultural lainnya adalah norma budaya yang dapat membantu mengartikan makna ekspresi marah dan dapat mendorong untuk mengekspresikan marah secara asertif sehingga membantu menjaga kesehatan diri. Faktor predisposisi termasuk budaya dan keluarga yang menerima perilaku kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah  (Patel & Jakopac, 2012). Norma sosial yang sangat ketat dapat menghambat ekspresi marah dan menyebabkan individu memilih cara yang maladaptif lainnya, sementara budaya asertif membantu individu dalam berespon terhadap marah yang sehat. Menurut Muhith (2015), bahwa perilaku kekerasan dapat dipelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering mendapat penguatan, maka semakin besar kemungkinan untuk terjadi. Perilaku kekerasan terjadi berkaitan dengan respon yang dipelajarinya. Yusuf (2015) menambahkan sebab-sebab sosial yang dapat menimbulkan perilaku kekerasan, diantaranya adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup, status dalam perkawinan, hasil dari orang tua tunggal, pengangguran, dan ketidakmampuan mempertahankan hubungan interpersonal dan struktur keluarga dalam sosial kultural.

2)   Faktor Presipitasi perilaku agresi

Faktor presipitasi merupakan faktor pencetus perilaku kekerasan, faktor ini dikaitkan dengan adanya ancaman terhadap konsep diri seseorang (Yosep, 2010). Faktor presipitasi meliputi empat hal yaitu sifat stresor, asal stresor, lamanya stresor yang dialami, dan banyaknya stresor yang dihadapi oleh seseorang  (Stuart & Laraia, 2005). Faktor yang bersumber dari klien, seperti: kondisi ketidakberdayaan, keputusasaan, percaya diri yang kurang. Faktor presipitasi perilaku kekerasan yang bersumber dari lingkungan, meliputi situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, dan kehilangan orang yang dicintai/ pekerjaan. Faktor interaksi dengan orang lain menjelaskan bahwa interaksi yang provokatif dan konflik dengan orang lain dapat menjadi pemicu perilaku kekerasan.

3)   Proses terjadinya perilaku kekerasan selain disebabkan karena faktor predisposisi dan presipitasi, Stuart dan Laraia (2009) menambahkan komponen penilaian terhadap stresor, sumber koping, dan mekanisme koping juga mempunyai peranan dalam terjadinya perilaku kekerasan.

 

Tanda dan Gejala Marah pada Perilaku Kekerasan

Menurut Muhith (2015), kemarahan dinyatakan dalam dua bentuk perilaku, yaitu perilaku kekerasan dan diam seribu bahasa. Tanda dan gejala marah yang merujuk pada perilaku kekerasan antara lain:

  1. Perubahan fisiologis

Perubahan fisiologis yang terjadi meliputi peningkatan tekanan darah, denyut nadi, dan pernafasan. Adanya dilatasi pupil, peningkatan tonus otot, mual, frekuensi buang air besar meningkat, dan refleks tendon yang meningkat (Muhith, 2015).

  1. Perubahan emosional

Perubahan emosional menunjukkan mudah tersinggung, tidak sabar, frustasi, ekspresi wajah tegang, kepala terasa berdenyut, wajah terasa terbakar dan kehilangan kontrol diri saat mengamuk (Muhith, 2015).

  1. Perubahan perilaku

Perubahan perilaku yang berkaitan dengan marah diantaranya: menyerang atau menghindar (fight or flight), menyatakan secara asertif, memberontak, dan perilaku kekerasan.

 

Menurut Yosep (2010) perilaku yang berhubungan dengan agresi diantaranya:

  1. Agitasi motorik menunjukkan klien bergerak cepat, tidak mampu duduk diam, kepalan tangan mengapit kuat, memukul dengan tinju kuat, respirasi meningkat, dan membentuk aktivitas motorik tiba-tiba (katatonia).
  2. Verbal menunjukkan ancaman pada objek yang tidak nyata, mengacau minta perhatian, bicara keras-keras, dan menunjukkan adanya delusi pikiran paranoid
  3. Afek didapatkan marah, permusuhan, kecemasan yang ekstrim, mudah terangsang, euphoria tidak sesuai atau berlebihan, dan afek labil.
  4. Tingkat kesadaran menunjukkan kebingungan, status mental berubah tiba-tiba, disorientasi, kerusakan memori, dan tidak mampu dialihkan.

 

Secara spesifik proses perilaku kekerasan melibatkan respon kognitif, respon afektif, respon fisiologis/fisik, respon psikomotor/perilaku dan respon sosial (Stuart, 2009).

  1. Respon kognitif: Hubungan pemikiran dan emosi ini berperan penting dalam menerjemahkan marah menjadi perilaku agresif (Fives, et al., 2010). Pada individu dengan perilaku agresif atau perilaku kekerasan yang dikaitkan dengan kondisi biologis ditemukan tanda-tanda iritabilitas/mudah marah, hipersensitif terhadap provokasi, mengancam, bicara keras, kebingungan, disorientasi dan gangguan memori, kesulitan kontrol diri, gangguan penilaian  (Stuart, 2009). Menurut Townsend (2009) klien dengan perilaku kekerasan ditemukan kondisi mudah tersinggung, defensif menghadapi kritik, panik dan ansietas dengan reaksi berlebihan terhadap rangsangan lingkungan. Tanda yang lain juga ditemukan pada klien dengan perilaku kekerasan seperti kurang kontrol terhadap rangsang, halusinasi, delusi, komentar sinis atau menantang  (Fontaine, 2009).
  2. Respon afektif (emosi): Marah adalah suatu respon emosional yang kuat dan tidak menyenangkan terhadap suatu provokasi baik nyata atau dipersepsikan sebagai frustasi, terluka dan takut (Thomas, 1998 dalam Videbeck, 2008). Kekerasan adalah merupakan salah satu dari respon afektif (emosi) marah yang maladaptif. Seseorang yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, merasa ingin berkelahi, mengamuk, bermusuhan, sakit hati, menyalahkan, menuntut, mudah tersinggung, euphoria yang berlebihan atau tidak tepat, dan afek labil (Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009). Sedangkan menurut Townsend (2009) tanda dan gejala perilaku kekerasan dapat diketahui secara afektif yaitu akan ditemukan iritabilitas, ketidaknyamanan dan ketegangan terus menerus, suasana hati marah, cemas, rasa bersalah, frustasi serta kecurigaan.
  3. Respon fisiologis/fisik: Marah  menciptakan keadaan kesiapan dengan membangkitkan saraf, aktivasi sistem ini mengakibatkan peningkatan  denyut dan tekanan darah, meningkatkan sekresi epineprin (mengakibatkan gairah fisiologis) dan meningkatkan kadar glukosa serum (Townsend, 2009) wajah merah, pupil melebar, dan frekuensi pengeluaran urin meningkat  (Rawlins & Beck, 1993). Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti tangan dikepal, tubuh kaku dan reflek yang cepat, hal ini disebabkan karena energi yang dikeluarkan saat marah bertambah (Purwanto, 2006 dalam  Safaria & Saputra, 2009). Menurut Stuart (2009), perilaku kekerasan dapat dilihat wajah tegang, tidak bisa diam, mengepalkan atau memukul tangan, rahang mengencang, peningkatan pernapasan, dan kadang tiba-tiba seperti kataton.
  4. Respon psikomotor/perilaku: Perilaku yang ditampilkan klien perilaku kekerasan yaitu agitasi motorik berupa bergerak cepat, mondar-mandir, ketidakmampuan untuk duduk tenang atau diam, mengepalkan tangan, mengencangkan rahang atau otot wajah, kata-kata menekan, memerintah, suara keras (Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009). Perilaku kekerasan dapat berkisar dari menampar, mendorong, membanting dan menyakiti orang lain dengan serius, gerakan mengancam seperti menunjuk keras ke petugas, mengapalkan tinju, mondar-mandir, menolak untuk duduk  (Fontaine, 2009).
  5.  Respon sosial: Tanda sosial perilaku kekerasan yaitu kata-kata menekan, memerintah, suara keras, menyalahkan orang lain, membicarakan kesalahan orang, berkata kasar dan menolak hubungan dengan orang lain, mengejek, melanggar batas jarak personal saat interaksi, kekerasan verbal terhadap orang lain dan lingkungan (Stuart & Laraia, 2005).

 

Diagnosa Keperawatan Perilaku Kekerasan

Diagnosa keperawatan merupakan kesimpulan dari status kesehatan klien dan produk dari aktivitas diagnosis (Muhith, 2015). Diagnosis keperawatan sebagai dasar pengembangan rencana intervensi keperawatan dalam rangka mencapai peningkatan pencegahan dan penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan klien.

Rumusan diagnosa keperawatan pada perilaku kekerasan menurut Yosep (2007 dalam Muhith, 2015) adalah

  1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan

Diagnosa ini mempunyai makna bahwa individu beresiko untuk memunculkan perilaku membahayakan diri sendiri secara fisik, emosional dan atau seksual (Wilkinson, 2013).

  1. Perilaku kekerasan

Diagnosa ini menunjukkan bahwa adanya perilaku individu yang mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Muhith, 2015).

  1. Gangguan konsep diri: harga diri rendah

Diagnosa ini menunjukkan bahwa klien mengalami hilang kepercayaan diri dan merasa gagal dalam mencapai keinginan (Muhith, 2015).

 

 

Tindakan Keperawatan Perilaku Kekerasan

Menurut Yosep (2010), intervensi keperawatan terhadap perilaku kekerasan berada dalam suatu rentang intervensi keperawatan.

 

Gambar

Rentang Intervensi Keperawatan Perilaku Kekerasan

 

Strategi preventif (Preventive strategies)

Kesadaran diri

Pendidikan klien

Latihan asertif (Assertiveness Training)

Strategi antisipatif (Anticipatory strategies)

Komunikasi

Perubahan lingkungan

Tindakan perilaku

Psikofarmakologi

 

Strategi pengurungan (Containment strategies)

Manajemen krisis

Seklusi (Seclusion)

Pengekangan (Restrains)

Sumber: (Stuart dan Laraia, 2005; Yosep, 2010)

 

Rentang intervensi keperawatan pada perilaku kekerasan terdiri dari 3 (tiga) strategi, diantaranya strategi preventif, strategi antisipatif, dan strategi pengurungan (Stuart dan Laraia, 2005; Yosep, 2010).

  1. Strategi preventif

Strategi ini merupakan tindakan untuk mencegah terjadinya perilaku kekerasan, strategi ini terbagi atas:

  1. Kesadaran diri

Kesadaran diri yang dimaksud adalah kesadaran diri petugas, khususnya perawat. Penting bagi perawat untuk mengidentifikasi kemampuan dirinya dalam menggunakan diri secara terapeutik terhadap klien dengan perilaku kekerasan. Kondisi seperti kelelahan, kecemasan, marah, dan apatis akan menghambat klien dalam memahami masalah klien dan mengurangi energi. Perawat harus menyadari bahwa stres yang dihadapinya dapat mempengaruhi komunikasinya dengan klien dan energi dirinya untuk melakukan tindakan perawatan juga berkurang, hal itu akan mengurangi kualitas perawatan terhadap klien (Stuart dan Laraia, 2005; Yosep, 2010).

  1. Pendidikan klien

Pendidikan yang diberikan kepada klien adalah bagaimana mengekspresikan marah yang tepat, karena masih banyak klien mengalami kesulitan mengekspresikan perasaannya, kebutuhan, hasrat, dan bahkan kesulitan mengomunikasikannya dengan orang lain (Muhith, 2015).

  1. c.      Assertiveness Training

Latihan asertif membantu membentuk klien dalam berperilaku asertif (Kaplan dan Sadock, 2010). Latihan asertif untuk melatih klien supaya mampu mengekspresikan perasaannya dan mengomunikasikan kepada orang lain atau petugas dengan baik. Menurut Stuart dan Laraia (2005) dan Yosep (2010), kemampuan asertif dalam hubungan interpersonal yang harus dimiliki seorang perawat, meliputi:

1)      Komunikasi langsung dengan setiap orang

2)     Mengatakan “tidak” untuk sesuatu yang tidak beralasan

3)     Sanggup melakukan komplain

4)     Mengekspresikan penghargaan dengan tepat

 

  1. Strategi antisipatif

Strategi ini diberlakukan kepada klien dengan riwayat perilaku kekerasan, tetapi respon kemarahannya belum mengancam keselamatan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan (Stuart dan Laraia, 2005). Intervensi pada strategi ini meliputi:

  1. Strategi komunikasi: Strategi komunikasi yang dipakai pada klien dengan perilaku kekerasan diantaranya adalah bersikap tenang, bicara dengan lembut, bicara dengan netral dan tidak menghakimi, menunjukkan respek kepada klien, hindari intensitas kontak mata langsung, fasilitasi pembicaraan klien, dengarkan klien dan jangan terburu-buru menginterpretasikan (Yosep, 2010).
  2. Perubahan lingkungan: Unit perawatan hendaknya menyediakan sarana yang dapat mengurangi perilaku klien yang tidak sesuai dan dapat meningkatkan adaptasi sosial klien, seperti ruang baca, aktivitas berkebun, dan grup program (Yosep, 2010).
  3. Tindakan perilaku: Tindakan perilaku merujuk pada membuat kesepakatan dengan klien tentang perilaku yang dapat diterima (disepakati) dan tidak, konsekuensi yang diterima jika kesepakatan tersebut dilanggar, dan kontribusi yang diberikan kepada klien selama perawatan (Yosep, 2010).
  4. Psikofarmakologi

Obat-obatan yang dapat digunakan dalam penatalaksanaan perilaku agresif menurut Stuart dan Laraia (2005), diantaranya adalah antiansietas, sedatif, antidepresan, moodstabilizer, dan antipsikotik. Obat golongan antiansietas dan sedative-hipnotics diberikan pada klien yang mengalami agitasi akut, tetapi pemberiannya tidak direkomendasikan dalam jangka waktu lama karena dapat menyebabkan kebingungan dan ketergantungan. Obat golongan ini adalah lorazepam dan clonazepam. Antidepresan digunakan pada klien dengan perilaku kekerasan yang berkaitan dengan perubahan mood dan lebih efektif pada klien dengan gangguan mental organik dan cedera kepala. Moodstabilizer diberikan pada klien perilaku kekerasan karena manik. Apabila agitasi terjadi karena delusi, halusinasi, atau perilaku psikotik lainnya, maka akan diberikan obat-obatan antipsikotik untuk mengurangi gejala tersebut (Yosep, 2010).

  1. Strategi pengurungan

Prosedur ini diterapkan jika klien jatuh dalam keadaan krisis dan adanya kegagalan dalam intervensi awal. Intervensi yang diberikan dalam strategi ini, meliputi manajemen krisis, isolasi dan restrain (Yosep, 2010).

  1. Manajemen krisis: Penanganan klien dengan perilaku kekerasan yang jatuh dalam keadaan darurat dilakukan dengan pembentukan tim krisis yang terdiri dari dokter, perawat, dan konselor.  Penanganan dalam tahap ini membutuhkan kesigapan dan kekompakan anggota  serta memperhatikan aspek keselamatan klien. Manajemen aktif dalam tahap ini adalah restrain fisik/ mekanik dan kimiawi (Stuart dan Laraia, 2005; Muhith, 2015).
  2. Isolasi (seclusion) dan pengekangan (restrain): Isolasi merupakan tindakan menempatkan klien dalam suatu ruangan tersendiri, sehingga klien tidak dapat keluar atas kemauannya sendiri. Restrain merupakan tindakan membatasi gerak klien dan merupakan tindakan keperawatan yang terakhir dalam menangani klien dengan perilaku kekerasan yang jatuh dalam keadaan krisis. Ada dua macam pengekangan, yaitu pengekangan secara fisik atau mekanik dengan menggunakan manset atau tali pengekang dan pengekangan secara kimiawi dengan menggunakan medikasi (Stuart dan Laraia, 2005). 

 

Daftar Pustaka

 

Direja, A. H. (2011). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.

Fontaine, K. (2009). Mental Health Nursing (7th ed.). New Jersey: Pearson Education.

Joyal, Christian C, Gendron, Catherine, Cote, Gilles 2008, ‘Nature and Frequency Aggressive Behaviours Among Long-Term Inpatients With Schizophrenia: A 6-Months Report Using The Modified Overt Aggression Scale’, Canadian Journal of Psychiatry, vol. 53, no. 7, diakses 03 September 2015, < http://media.proquest.com/>.

Keliat, B. A., Akemat, Helena, N., & Nurhaeni, H. (2012). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN (Basic Course). Jakarta: EGC.

Muhith, Abdul 2015, Pendidikan Keperawatan Jiwa Teori dan Aplikasi, edisi 1, CV Andi Offset, Yogyakarta.

Patel, S. C., & Jakopac, K. A. (2012). Manual of Psychiatric Nursing Skills. Canada: Jones & Bartlett Learning.

Putri, Dewi Eka 2010, ‘Pengaruh Rational Emotive Behaviour Therapy Terhadap Klien Perilaku Kekerasan di Ruang Rawat Inap RSMM Bogor’ , tesis Magister, Universitas Indonesia, Jakarta, diakses 18 September 2015, < http://lib.ui.ac.id/>.

Stuart, G. (2009). Principles and Practice of Psychiatric Nursing (9th ed.). St. Louis: Mosby Year Book.

Stuart, G., & Laraia, M. T. (2005). Principles and Practice of Psychiatric Nursing (7th ed.). St. Louis: Mosby Year Book.

Townsend, M. (2009). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts of Care in Evidance-Based Practice (6th ed.). Philadelphia: F.A Davis Company.

Videbeck, Sheila 2008, Buku Ajar Keperawatan Jiwa, EGC, Jakarta.

Wilkinson, JM, & Ahern, NR 2013, Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC, EGC, Jakarta.

Yosep, Iyus 2010, Keperawatan Jiwa, PT Refika Aditama, Bandung.

Yusuf, Ah, Fitryasari, Rizki, P.K, & Nihayati, Hanik Endang 2015, Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Salemba Medika, Jakarta.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :