RR DIAN TRISTIANA


Thing That Never Change is Changes

Teori Transisi (Transition Theory): Meleis

Teori Transisi (Transition Theory)

Sejarah dan latar belakang teori transisi (transition theory)

            Perkembangan teori transisi dimulai pada pertengahan tahun 1960-an, saat Meleis sedang menyelesaikan studi PhD-nya. Awalnya Meleis menginvestigasi fenomena kehamilan yang direncanakan dan proses keterlibatan dalam menjadi orang tua baru dan penguasaan (mastery) peran orang tua. Meleis berfokus pada komunikasi pasangan dan interaksi dalam perencanaan yang efektif maupun yang tidak efektif tentang jumlah anak yang direncanakan.

            Pada akhirnya penelitiannya difokuskan pada orang yang tidak mengalami transisi yang sehat dan menemukan intervensi yang akan memfasilitasi transisi yang sehat. Pada awal kerjanya dengan transisi, Meleis menjelaskan transisi yang tidak sehat atau transisi yang tidak efektif dalam hubungannya dengan insufisiensi peran. Dia menjelaskan insufisiensi peran sebagai semua kesulitan dalam pengetahuan dan atau performance tentang peran berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Meleis menjelaskan bahwa kesehatan adalah penguasaan (mastery), dan dia menguji definisi tersebut melalui variabel hasil seperti “sedikit gejala”, “well being yang dirasakan” (perceived well being) serta “kemampuan dalam mengasumsikan suatu peran” (ability to assume new roles) (Meleis, 2010).

 

Kerangka teori transisi (transition theory)

         Kerangka teori pada transition theory sangatlah beragam. Transisi menjadi domain perawat ketika berhubungan dengan kesehatan atau penyakit atau ketika respons transisi dimanifestasikan dalam bentuk perilaku yang berkaitan dengan kesehatan (Meleis, 2010).

Transisi merupakan perjalanan seseorang dalam fase kehidupannya, kondisi, atau status ke dalam fase, kondisi atau status yang berbeda. Transisi merupakan konsep yang multipel yang berkaitan dengan elemen suatu proses, time span, dan persepsi (Meleis, 2010). Karakteristik transisi yang utama adalah bahwa transisi tersebut pada dasarnya merupakan hal yang positif. Selesainya sebuah transisi mengindikasikan bahwa seseorang telah mencapai sebuah periode stabilitas yang lebih besar berkaitan dengan apa yang telah hilang sebelumnya (Meleis, 2010).

Proses menunjukkan fase dan urutannya (Meleis & Chicks, 1986),  apakah kejadian yang menyebabkan transisi diantisipasi atau tidak dan apakah kejadian tersebut merupakan kejadian yang jangka panjang atau jangka pendek.

Tabel Kejadian yang menyebabkan sebuah proses transisi

Penyakit

Penyembuhan

Kelahiran

Kematian

Kehilangan

Imigrasi

Migrasi

Hospitalisasi

Kehamilan

Pensiun

Maturasi

 

Rentang waktu (time span) menjelaskan sebuah fenomena terbatas yang berkelanjutan; dan persepsi berkaitan dengan makna sebuah transisi yang dialami oleh seseorang (Meleis & Chicks, 1986).

Konsep mayor teori transisi (transition theory)

        Konsep mayor teori middle range transisi mencakup: (a) Tipe dan pola transisi; (b) Properti pengalaman transisi; (c) Kondisi transisi (fasilitator dan inhibitor); (d) Indikator proses; (e) indikator outcome ; dan (f) keperawatan terapeutik (Tomey & Alligood, 2010)

(1) Tipe dan Pola Transisi

    Tipe transisi mencakup perkembangan, kesehatan dan sakit (illness), situasional dan organisasi. Perubahan perkembangan mencakup kelahiran, remaja, menopause, proses penuaan (senescence) dan kematian. Transisi sehat dan sakit (Health and illness) mencakup proses penyembuhan, keluar dari rumah sakit dan diagnosis penyakit kronis. Perubahan dari kondisi sehat ke kondisi sakit sangat berbeda dengan transisi yang disebabkan karena proses alami terhadap perubahan perilaku. Transisi organisasional merujuk pada perubahan kondisi lingkungan yang mempengaruhi kehidupan klien sama halnya dengan perubahan status karyawan yang dimiliki. Pola transisi mencakup keberagaman dan kekompleksan. Kebanyakan orang mengalami berbagai macam transisi dalam waktu yang sama dan tidak hanya satu transisi saja yang tidak mudah dibedakan dari konteks kehidupan sehari-harinya. (Tomey & Alligood, 2010)

(2) Properti pengalaman transisi

     Properti pengalaman transisi mencakup (a) kesadaran (awareness); (b) engagement;(c) perubahan dan perbedaan; (d) time span; (e) titik kritis dan titik kejadian (Tomey & Alligood, 2010). Awareness atau kesadaran dijelaskan sebagai persepsi, pengetahuan dan rekognisi terhadap pengalaman transisi, dan tingkat awareness seringkali direfleksikan dalam derajat kesesuaian antara proses dan respons dan apa yang yang mendasari sebuah respons yang diharapkan serta persepsi seorang individu dalam menjalani transisi yang sama (Tomey & Alligood, 2010). Meleis (2000) dalam Tomey & Alligood (2010) menyatakan bahwa Engagement merupakan aspek lainnya dalam transisi. Engagement menggambarkan tingkat individu dalam keterlibatannya dalam proses transisi. Meleis menyatakan bahwa tingkat engagement seseorang yang sadar akan perubahan kondisi fisik, emosi, sosial atau lingkungan akan berbeda dengan seseorang yang tidak sadar akan perubahan tersebut. Perubahan dan perbedaan merupakan aspek transisi. Perubahan dalam identitas, peran, hubungan, kemampuan dan pola perilaku diharapkan membawa ke dalam perubahan proses internal sama halnya dengan proses eksternal (Tomey & Alligood, 2010). Time Span (rentang waktu) merupakan aspek transisi yaitu rentang waktu yang diidentifikasi sejak dari awal mulai, pergeseran dari tanda awal antisipasi, persepsi atau demonstrasi perubahan; pergerakan melalui periode ketidakstabilan, kebingungan dan distres ke arah “akhir” yang sebenarnya (Tomey & Alligood, 2010). Critical points and events merupakan aspek terakhir dari transisi yang dijelaskan sebagai penanda seperti kelahiran, kematian, diagnosis suatu penyakit dan sebagainya (Tomey & Alligood, 2010).

(3) Kondisi Transisi

    Kondisi transisi adalah keadaan yang mempengaruhi cara seseorang melalui sebuah proses transisi. Kondisi transisi ini mencakup faktor personal, faktor komunitas, atau faktor sosial yang mungkin memfasilitasi atau menghambat proses transisi dan hasil yang sehat (Tomey & Alligood, 2010). Kondisi personal mencakup meanings (makna), kepercayaan budaya dan sikap, status sosial ekonomi, persiapan dan pengetahuan. Kondisis komunitas (misalnya, sumberdaya komunitas) atau kondisi sosial dapat menjadi fasilitator maupun hambatan proses transisi (Tomey & Alligood, 2010).

(4) Pola Respons atau Indikator proses dan indikator hasil (outcome)

     Pola respons diartikan sebagai indikator proses dan indikator hasil yang mencirikan respons yang sehat. Indikator proses yang menggerakkan klien ke arah sehat yang difasilitasi oleh perawat dalam memfasilitasi perubahan tersebut. Indikator hasil digunakan untuk menilai apakah transisi tersebut merupakan proses yang sehat atau tidak. Indikator proses mencakup perasaan terkoneksi, interaksi, terbiasa, dan mengembangkan kepercayaan diri dan koping (Tomey & Alligood, 2010). Beberapa indikator transisi yang sehat yaitu kesejahteraan subyektif (subjective well being), penguasaan (mastery) perilaku yang baru dan well being hubungan interpersonal (Meleis, 2010). Kesejahteraan Subyektif dalam proses transisi mencakup koping yang efektif dan kemampuan mengelola emosi begitu pula perasaan tentang martabat, integritas pribadi dan kualitas hidup (Meleis, 2010). Mastery (Penguasaan) diartikan sebagai pencapaian suatu keterampilan peran dan kenyamanan dengan perilaku yang diperlukan dengan situasi yang baru (Meleis, 2010). Penguasaan memiliki beberapa komponen termasuk kemampuan/kompetensi yang membawakan pengetahuan atau keterampilan kognitif, pengambilan keputusan dan keterampilan psikomotorik serta kepercayaan diri (Meleis, 2010). Penguasaan merupakan indikasi suatu proses transisi yang berhasil pada level organisasi serta level individu (Meleis, 2010). Well being dalam relasi/hubungan. Well being (kesejahteraan) dalam relasi seseorang mengindikasikan bahwa proses transisi berhasil dilakukan. Kesejahteraan hubungan diartikan sebagai adaptasi keluarga (Meleis, 2010).

(5) Keperawatan terapeutik

   Meleis dan Schumacher (1994) mendeskripsikan keperawatan terapeutik seperti yang selama ini dilakukan yaitu pengkajian kesiapan, persiapan transisi yang disarankan oleh proses keperawatan terapeutik, dan peran suplementasi keperawatan terapeutik (Tomey & Alligood, 2010).  Pengkajian kesiapan perlu dilakukan berbagai multidisiplin dan memerlukan pemahaman akan pasien. Pengkajian kesiapan mencakup setiap kondisi yang diidentifikasi dalam menhasilkan profil tentang kesiapan individu dan memungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai pola transisi (Meleis, 2010). Edukasi merupakan modal utama dalam menciptakan kondisi yang optimal dalam persiapan transisi (Meleis, 2010). Hal ini disebabkan edukasi dapat meningkatkan perkembangan keterampilan yang diperlukan. Keperawatan terapeutik yang terakhir adalah suplementasi peran (Meleis, 2010).

penelitian penulis yang menggunakan teori transisi

<a href="https://scholar.google.co.id/citations?user=U5prXr0AAAAJ&hl=id&oi=ao">PWB dengan Teori Transisi</a>

 

 Rr Dian Tristiana, S.Kep.Ns.M.Kep

Community & Mental Health Nursing

Faculty of Nursing Universitas Airlangga

 Daftar Pustaka

Meleis, A. I. (2010). Transitions Theory; Middle-Range and Situation-specific Theories in Nursing Research and practice. New York: Springer Publishing Company.

Meleis, A. I., & Chicks, N. (1986). Transitions: A Nursing Concern. San Fransisco: University of Pennsylvania.

Meleis, A. I., Sawyer, L. M., Im, E.-O., Messias, D. K., & Schumacher, K. (2000). Experiencing Transitions: An Emerging Middle-Range Theory. Adv Nurs Sci , 23 (1), 12-28.

Tomey, A., & Alligood, M. (2010). Nursing Theorists and Their Work (7th ed ed.). Missouri: Mosby Elsevier.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :